KASUS STROKE NON HEMORAGIK DI RUANG NEURO RSSN BUKITTINGGI

PENDAHULUAN

Stroke adalah suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak secara fokal atau global, yang dapat menimbulkan kematian atau kelainan yang menetap lebih dari 24 jam, tanpa penyebab lain kecuali gangguan vaskuler (WHO 1983). Stroke merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi, yang berdasarkan laporan tahunan 2006 di RSSA angka kematian ini berkisar antara 16,31% (462/2832) dan menyebabkan 4,41% (1356/30096) pasien dirawat inapkan. Angka-angka tersebut tidak membedakan antara stroke iskemik dan hemoragik. Di negara lain seperti Inggris dan Amerika, sebagian besar stroke yang dijumpai pada pasien (88%) adalah jenis iskemik karena penyumbatan pada pembuluh darah, sedangkan sisanya adalah stroke hemoragik karena pecahnya pembuluh darah1.

Stroke Non Hemoragik (iskemik) adalah gangguan peredaran darah pada otak yang dapat berupa penyumbatan pembuluh darah arteri, sehingga menimbulkan infark/ iskemik. Umumnya terjadi pada saat penderita istirahat. Tidak terjadi perdarahan dan kesadaran umumnya baik. Stroke non-hemoragik terjadi karena penurunan aliran darah sampai di bawah titik kritis, sehingga terjadi gangguan fungsi pada sebagian jaringan otak. Bila hal ini lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat terjadi infark dan kematian. Berkurangnya aliran darah ke otak dapat disebabkan oleh berbagai hal misalnya thrombus, emboli yang menyumbat salah satu pembuluh darah, atau gagalnya pengaliran darah oleh sebab lain, misalnya kelainan jantung (fibrilasi, asistol). Stroke non-hemoragik lebih sering dijumpai daripada yang hemoragik, diagnosis mudah ditegakan, yaitu timbulnya deficit neureologik secara mendadak (misalnya hemiparesis), dan kesadaran penderita umumnya tidak menurun2,3.

Pada kesempatan ini, kami membahas pasien yang berusia 65 tahun dengan stroke iskemik dan gangguan bicara (afasia).

—————————————————————————————————————-

ILUSTRASI KASUS

 

Seorang pasien laki-laki, umur 65 tahun masuk Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi tanggal 2 April 2010 dengan

Keluhan Utama :

Anggota gerak kanan terasa kebas

 

Riwayat penyakit sekarang :

Bicara pelo kemarin (tanggal 1 April 2010), hari ini bicara bagus (tanggal 2 April 2010)

Anggota gerak kanan atas tersa kebas

Pusing

Nafsu makan menurun

Lidah berat

 

Riwayat penyakit terdahulu :

Hipertensi sejak 5 tahun yang lalu

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum           : Sedang

Tingkat Kesadaran      : CM

Tekanan darah             : 170/100 mmHg

Frekuensi pernapasan  : 20 x/menit

Frekuensi nadi             : 84 x/menit

Suhu                            : 36,5 oC

Status neurologis         : Kesadaran : E4 M6 V5

Sistem persyarafan : sensasi raba (+), kaku kuduk (-)

 

Diagnosis

  • Diagnosa Kerja : Suspect Stroke Iskemik

 

Penatalaksanaan

  • IVFD RL 20 tetes/menit
  • Injeksi citicoline 2x500mg IV
  • Vit. B1 100 mg, Vit. B6 200 mg, Vit. B12 250 mcg (Neurodex®) 2×1

Pemeriksaan Penunjang (tanggal 2 maret 2010) (Lampiran 1)

  • Gula darah random 198 mg%                                     (75-115)
  • Ureum 35 mg%                                                           (20-40)
  • Kreatinin 1,3 mg%                                                      (0,6-1,1)
  • Sel darah putih 6,5 103/mm3 (4,0-10,0)
  • Sel darah merah 4,53 106/mm3 (3,80-5,80)
  • Hemoglobin 12,2 g/dL                                               (11,0-16,5)
  • Hematokrit 38 %                                                        (35,0-50,0)
  • Platelet/trombosit 325 103/mm3 (150-450)

 

Rencana Pemeriksaan

  • Pemeriksaan gula darah nuchter dan 2 jam PP, kolesterol total, kolesterol HDL, kolesterol LDL, trigliserida
  • CT Scan

 

Follow Up

Hari ke-2 rawatan (3-4-2010)

S : bicara pelo (+)

O : TD 160/90 mmHg             Nadi 68x/menit           Nafas 24x/menit          Suhu 36,5 oC

Hasil laboratorium (Lampiran 1):

Gula darah nuchter 116 mg%      (75-115 mg%)

Gula darah 2 jam PP 127 mg%    (<150 mg%)

Asam urat 5,5 mg%                     (3,0-6,0 mg%)

Total kolesterol 207 mg%            (<220 mg%)

HDL kolesterol 35 mg%              (>35 mg%)

LDL kolesterol 147 mg%            (<130 mg%)

Trigliserida 125 mg%                   (<200 mg%)

A : Recurrent Stroke Suspect Iskemik

P : Captopril 2×12,5 mg

Rosuvastatin (Crestor®) 1×20 mg

Ranitidin 2×1 iv

Piracetam (Neurotam®) 4×1200 mg

RL + Reotal /12 jam

CT scan

Hari ke-3 rawatan (4-4-2010)

O : TD 170/110 mmHg           Nadi 84x/menit           Nafas 24x/menit

A : Diagnosa sementara Stroke Iskemik + Dysartria

P : Konsul Rehabilitasi Medik

 

Hari ke-4 rawatan (5-4-2010)

S : Kesadaran : Samnolen/Aphatis; GCS : E4 M6 Vafasia global; muntah (+); Hemiplegia dextra (+)

O : TD 170/110 mmHg

P : Stop Piracetam (Neurotam®)

Asam asetil salisilat (Thrombo Aspilets®) 1×160 mg

Dexanta Syr 3×1 cth

 

Hari ke-5 rawatan (6-4-2010)

O : TD 170/70 mmHg

A : Stroke Iskemik + Afasia global

P : Pasang NGT

Asering + Reotal drip/12 jam

Parasetamol 3×500 mg

Haloperidol 2×0,5 mg

 

Hari ke-6 rawatan (7-4-2010)

S : Mencret (+) ±5x/hari

O : TD 180/100 mmHg           Nadi 82x/menit           Nafas 24x/menit

P : New Diatabs 3×1

Captopril 2×12,5 mg stop

Captopril 2x25mg

HCT 1×1 (pagi)

Neurodex 1×1

Asering/12 jam

 

Hari ke-7 rawatan (8-4-2010)

O : TD 180/90 mmHg

P : Captopril 2×50 mg

HCT 1×1

New diatabs stop

Mobilisasi

 

Hari ke-8 rawatan (9-4-2010)

S : demam (+), mencret 1x/hari

O : GCS = 15; TD 180/70 mmHg; Nadi 88x/menit; Nafas 32x/menit

Pemeriksaan elektrolit (Lampiran 1):

Natrium 136 mmol/L

Kalium 3,1 mmol/L

Klorida 105 mmol/L

Pemeriksaan urin (Lampiran 1)::

Protein +2

Bilirubin (-)

Reduksi (-)

Sedimen

Leukosit 8-10

Eritrosit 4-6

Epitel   +1

Kristal amorf +1

Silinder granuler 1-2

A : Infeksi saluran kemih

P : Parasetamol 3x500mg

Cek elektrolit dan urin lengkap

Ceftriaxone 2×1 (skintest)

Oral hygiene

Oral massage

Speech terapi

 

Hari ke-9 rawatan (10-4-2010)

O : TD 160/80 mmHg

P : Captopril stop

Intervask 1x10mg

Lisinopril 1x10mg

HCT 1×1

CPZ 2×12,5mg

Dexanta syrup 3x1C

Urispas 2×1

 

Hari ke-10 rawatan (11-4-2010)

O : TD 160/60 mmHg

 

Hari ke-11 rawatan (12-4-2010)

S : demam (+)

O : TD 160/60 mmHg

P : terapi lanjut

pasien pulang atas permintaan keluarga dengan pasang NGT dan infus

 

—————————————————————————————————————-

DISKUSI

 

Pasien Tn. N berusia 65 tahun, pada tanggal 2 April 2010 masuk ke RSSN Bukittinggi melaui IGD Jam 11.40, didiagnosa menderita suspect stroke iskemik dengan keluhan anggota gerak kanan terasa kebas, bicara pelo bsehari sebelum masuk RSSN Bukittinggi, pusing, nafsu makan turun, lidah berat, dengan pemeriksaan fisik keadaan umum sedang, tingkat kesadaran CM, GCS 15 (E4 M6 V5), TD 170/100 mmHg, Nadi 84x/menit, Pernapasan 20x/menit. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada tanggal 2 April yaitu darah lengkap, ureum, creatinin. Dari hasil labor didapat gula darah random 198 mg%, ureum 35 mg%, creatinin 1,3 mg%. Pasien dianjuran melakukan pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah 2 jam setelah makan, karena pemeriksaan gula darah random yang tinggi. Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak 5 tahun yang lalu dan juga memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Kebiasaan merokok dan hipertensi yang diderita pasien merupakan faktor risiko terjadinya stroke3. Pasien biasanya merokok 1 bungkus/hari, berhenti 10 hari sebelum pasien dirawat. Pasien juga mempunyai kebiasaan minum teh dan coffeemix®.

 

Dari hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 2 April diketahui kadar kreatinin pasien melebihi batas normal 1,3 mg% (normal 0,6-1,1), diperlukan penyesuaian dosis untuk obat yang diekskresikan dalam bentuk tidak berubah melalui urine lebih dari 90%, tetapi  tingginya kadar serum kreatinin masih bisa ditoleransi karena tidak terlalu tinggi sekali. Tanggal 3 april diketahui pasien menderita hiperkolesterolemia dengan LDL kolesterol 147 mg% (normal <130 mg%). Kadar kolesterol tinggi juga merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya penyakit stroke3. Kadar gula darah puasa pasien 116 mg% (normal 75-115) dan 2 jam setelah makan 127 mg% (normal <150mg%). Hasil lab ini menunjukkan bahwa pasien tidak memerlukan terapi obat hiperglikemi. Dari hasil pemeriksaan dengan CT Scan (hari rawatan ke-4) diketahui pasien menderita stroke iskemik.

Dilihat dari umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi, dan kebiasaanya, pasien dalam kasus kali ini memiliki risiko yang tinggi untuk terkena stroke. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya stroke. Dari riwayat penyakit sebelumya diketahui bahwa pasien mempunyai riwayat hipertensi. Hipertensi ini dapat dicegah antara lain diet rendah natrium yang banyak terdapat dalam garam, mengurangi stress, mengontrol berat badan, dan lain-lain. Hal ini perlu disampaikan kepada pasien untuk pengobatan hipertensi dengan merobah gaya hidup4,5.

Dari hasil pemeriksaan fisik dan labor  Tn N tersebut dapat diketahui kalau pasien juga menderita hiperkolesteramia. Tingginya kadar kolesterol dalam darah akan menyebabkan pengendapan kolesterol pada dinding pembuluh darah, yang mengakibatkan pembuluh darah menjadi sempit, keras dan kaku karena kehilangan sifat elastisitasnya. Kadar kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor yang memacu timbulnya penyakit pembuluh darah termasuk pembuluh darah di otak dan merupakan faktor timbulnya stroke4,5.

 

Obat-obat yang diberikan pada Tn. N adalah (Lampiran 3):

1.      IVFD RL (mulai 2/4 stop 6/4)

2.      Vitamin B1 100 mg, vit B2 200 mg, vit. B12 250 mcg (Neurodex®) 2×1 (mulai 2/4 stop 6/4)

3.      Captopril 12,5 mg 2×1(mulai 3/4 stop 7/4)

4.      Rosuvastatin 20 mg (Crestor®) 1×1 (mulai 3/4 lanjut)

5.      Piracetam 1200 mg (Neurotam®) 4×1 (mulai 3/4 stop 5/4)

6.      Acetylsalicylic acid 160 mg (Thrombo aspilets®) 1×1 (mulai 5/4 lanjut)

7.      Vitamin B1 100 mg, vit B2 200 mg, vit. B12 250 mcg (Neurodex®) 1×1 (mulai 7/4 lanjut)

8.      Parasetamol 500 mg 3×1 (mulai 7/4 lanjut)

9.      Haloperidol 2×1 (mulai 7/4 lanjut stop 10/4)

10.  Asering (mulai 6/4 stop 10/4)

11.  Reotal (mulai 3/4 stop 7/4)

12.  Atapulgit aktif (New Diatabs®) (mulai 7/4 lanjut)

13.  Captopril 2×25 mg (mulai 7/4 stop 10/4)

14.  Hydrochlorthiazide (HCT®) 1×1 ( mulai 8/4 lanjut)

15.  Amlodipine besylate 10 mg (Intervask®) 1×1 (mulai11/4 lanjut)

16.  Lisinopril 10 mg 1×1 (mulai 11/4 lanjut)

17.  Chlorpromazine CPZ (mulai 10/4)

18.  Suspensi Al(OH)3 200 mg, Mg (OH)2 200 mg, simethicone 20 mg (Dexanta®) 3×1 (mulai 10/4)

19.  Flavoksat hidroklorida 200 mg (Urispas®) (mulai 10/4)

20.  Injeksi Citicoline 500 mg (Brainact®) 2×1 (mulai 2/4 lanjut)

21.  Injeksi Ranitidine 2×1(mulai 3/4 lanjut)

22.  Injeksi Ceftriaxone 2×1 (mulai 9/4 lanjut)

Tanggal 2 April 2010. Pemberian Ringer Laktat karena pasien mengalami gangguan homeostatis dan harus segera diberikan infus RL untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit pasien. Vitamin B1 100 mg, vit B2 200 mg, vit. B12 250 mcg (Neurodex®) 2×1 sebagai vitamin untuk gangguan neurologik. Injeksi citicoline 2×1 sebagai neuroprotektor yang dapat meningkatkan aliran darah dan konsumsi oksigen di otak pada pengobatan gangguan serebro vaskular sehingga dapat memperbaiki gangguan kesadaran.

Tanggal 3 April 2010, pasien diberikan terapi captopril, rosuvastatin (Crestor®), piracetam (Neurotam®). Captopril 12,5 mg 2×1 sebagai anti hipertensi golongan ACE inhibitor, bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pasien yang tinggi. Captopril diekskresikan dalam bentuk tidak berubah melauli urin sekitar 24-38%. Waktu paruh captopril 2,2 jam, bioavaibilitas 65%. Waktu paruh captopril lebih lama/diperpanjang pada pasien dengan gangguan ginjal, jadi diperlukan penyesuaian dosis, tetapi karena tekanan darah pasien yang masih tinggi, pengurangan dosis captopril tidak dilakukan lagi pula kadar creatinin tidak terlalu jauh dari batas normal6,12. Absorpsi captopril terganggu apabila diberikan bersama makanan, sebaiknya diberikan 1 jam sebelum makan6,7. Rosuvastatin 20 mg (Crestor®) 1×1 bertujuan untuk menurunkan kadar LDL kolesterol pasien yang tinggi. Rosuvastatin dapat menurunkan kadar HDL 2 kali lebih baik dan meningkatkan HDL satu kali lebih baik dari pada simvastatin6. Rosuvastatain merupakan inhibitor HMG CoA reduktase dan sebaiknya diberikan pada malam hari8. Piracetam 1200 mg (Neurotam®) 4×1 diberikan untuk mengobati  gangguan serebrovaskular dan insufisiensi sirkulasi serebral. Selain itu piracetam pada tingkat darah memperbaiki keadaan rheologis. Oleh karena efek piracetam pada agregasi platelet, kurang cocok jika diberikan kepada pasien dengan stroke hemoragik, bisa diberikan kepada pasien stroke iskemik. Pentoxyfilline (Reotal®) untuk mengobati sumbatan arteri perifer dan gangguan peredaran darah karena aterosklerosis9,10.

Tanggal 5 April 2010, pasien mengalami kondisi menggigil dan muntah sehingga pemberian piracetam dihentikan karena kemungkinan pasien alergi terhadap piracetam. Hasil CT scan menunjukkan bahwa pasien menderita stroke iskemik. Terapai lini pertama untuk stroke iskemik yaitu Aspirin 81-325 mg sekali sehari. Acetylsalicylic acid (Thrombo Aspilets®) 1×160 mg diberikan sebagai antiplatelet. Efek samping aspirin yaitu gangguan lambung, sebaiknya diberikan segera setelah makan. Jika pasien hipersensitif atau kontra indikasi dengan aspirin, dapat diberikan Clopidogrel 75 mg peroral sekali sehari11.

Tanggal 6 April 2010, pasien diberikan terapi parasetamol dan haloperidol. Parasetamol 500 mg 3×1 (bila panas) diberikan untuk mengatasi demam pada pasien karena pada hari rawatan ke-6 pasien demam. Haloperidol 0,5 mg 2×1 diberikan untuk mengatasi kecemasan yang dialami pasien. Dosis awal haloperidol untuk dewasa 0,5-5 mg sehari 2-3 kali8. Infus RL diganti dengan Asering (Ringer Acetate) karena pasien gelisah.

Tanggal 7 April 2010, pasien mengalami mencret kurang lebih lima kali perhari. Dokter memberikan terapi atapulgit aktif (New Diatabs®). Atapulgit aktif dapat menghambat absorpsi obat-obat lain, sebaiknya pemakaian obat lain dijarakkan 1-2 jam. Pasien diberikan Captopril 25 mg 2×1, dan hidroklortiazid (HCT®) 1×1. Terapi hipertensi sebelumnya Captopril 12,5 mg 2×1 diganti dengan kombinasi Captopril 25 mg dan hidroklortiazid (HCT®) 1×1, karena tekanan darah pasien masih tetap tinggi, diharapkan kombinasi ini dapat menurunkan tekanan darah. HCT sebaiknya diberikan pada pagi hari. Captopril pagi dan sore 1 jam sebelum makan8.

Tanggal 8 April 2010, New Diatabs® di stop karena pasien sudah tidak diare. Dosis Captopril dinaikkan menjadi 2×50 mg karena tekanan darah pasien masih tinggi (180/90), tapi belum dilaksanakan sampai akhirnya captopril distop dan diganti dengan lisinopril.

Tanggal 9 April 2010, pasien masih demam sehingga dokter menganjurkan pemeriksaan elektrolit dan urin lengkap, memberikan antibiotik Ceftriaxone 2×1 untuk suspect ISK pasien . Setelah pemeriksaan urin terbukti pasien menderita ISK. Hal ini dapat dilihat dari adanya leukosit di urin (Lampiran1). Dari hasil pemeriksaan elektrolit diketahui bahwa kadar kalium pasien rendah yaitu 3,1 mmol/L (normal 3,5-5,1). Kadar kalium yang rendah dalam darah mungkin disebabkan karena efek samping HCT yaitu hipokalemia, untuk mengatasinya dengan menggunakan infus KA-EN 3B. Kadar kalium dalam KA-EN 3B lebih tinggi dari pada Asering, dimana kadar kalium dalam KA-EN 3B 20 mEq/liter sedangkan dalam Asering 4 mEq/liter9,10.

Tanggal 10 April 2010, Captopril distop, terapi hipertensi yang diberikan dokter Lisinopril 10 mg 1×1, Amlodipin (Intervask®) 10 mg, HCT 1×1 mg. Lisinopril merupakan antihipertensi golongan ACE inhibitor. Dosis awal lisinopril untuk dewasa 10-40 mg per hari. Lisinopril memperkecil kemungkinan timbulnya hipokalemia akibat pemakaian HCT. Keuntungan lisinopril dibanding captopril, absorpsinya tidak terganggu dengan adanya makanan, jadi dapat diberikan sebelum atau sesudah makan, waktu paruhnya lebih panjang sekitar 12 jam; tetapi kerugiannya biovabilitasnya lebih rendah yaitu sekitar 25%8,12. Amlodipin merupakan antihipertensi golongan Ca channel blocker. Dosis awal untuk dewasa 5 mg sekali sehari, dosis maksimum 10 mg sekali sehari. Bioavaibilitas amlodipin 64-90% dan diekskresikan dalam bentuk tidak berubah melalui urin sekitar 10%, jadi tidak perlu pengurangan dosis pada pasien gangguan ginjal8. Haloperidol diganti dengan klorpromazin 2×12,5 mg untuk mengatasi ansietas dan mual pasien. Antacid untuk mengatasi mual dengan menetralkan asam lambung, absorpsi akan terganggu apabila digunakan bersama makanan, sebaiknya diberikan 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. Urispas® diberikan untuk mengurangi gejala akibat gangguan saluran kemih.

Tanggal 12 April 2010, pasien masih demam dan terapi lanjut, akan tetapi pasien pulang paksa atas permintaan kelurga.

—————————————————————————————————————-

TINJAUAN OBAT YANG DIGUNAKAN

1.        Infus RL

Komposisi : Per 1000 mL Na 130 meq/L, Cl 109 meq/L, K 4 meq/L, Ca 2,7 meq/L, Lactate 28 meq/L, (NaCl 6 g, KCl 0,3 g, CaCl2 0,2 g, Na Lactate 3,1 g, Water for injection 1000 mL). Osmolaritas ; 273 mOsm/L

Indikasi : Terapi untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral

Dosis : Dosis tergantung individual

Interaksi obat : Preparat K dan Ca

 

2.        Infus Asering

Komposisi : Per L: Na 130 meq, K 4 meq, Cl 109 meq, Ca 3 meq, acetate 28 meq.

Indikasi : Asering : Terapi cairan pengganti untuk kondisi kehilangan cairan secara akut.

Dosis : individual

Kontra indikasi : Penderita gagal jantung kongestif, kerusakan ginjal, edema paru yang disebabkan oleh retensi Na & hiperproteinemia. Penderita hipernatremia, hiperkloremia, hiperkalemia, hiperhidrasi.

Efek samping : Demam, infeksi, pada tempat injeksi, trombosis pada vena atau flebitis pada tempat injeksi, hipervolemia.

3.    Neurodex®

Komposisi : vitamin B1 100 mg, vitamin B6 200 mg, vitamin B12 250 mcg.

Indikasi : Gejala neorotropik karena defisiensi vitamin B, gangguan neurologik, mual dan muntah pada kehamilan, anemia, robonsia untuk kejang, lesu, dan usia lanjut.

Pemberian obat: Dapat diberikan bersamaan dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.

Dosis : 1 tablet 2-3 x sehari.

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap vitamin B.

Rencana Edukasi : Sebaiknya diminum pada pagi dan siang hari sesudah makan.

 

4.    Captopril

Indikasi : lihat pada dosis

Dosis : Hipertensi ringan s/d sedang Awal 12,5 mg 2x/hr. Pemeliharaan : 25 mg 2x/hr, dapat ditingkatkan dengan selang waktu 2-4 minggu. Maks: 50 mg 2x/hr. Dapat ditambah thiazid jika respon tidak cukup atau dosis diuretik dapat ditingkatkan sesudah 1-2 minggu. Hipertensi berat Awal 12,5 mg 2x/hr, dapat ditingkatkan bertahap s/d maks 50 mg 3x/hr dan harus diberikan bersama dengan obat antihipertensi lain dengan dosis yang disesuaikan. Maks 150 mg/hr. Gagal jantung Awal 6,25 mg atau 12,5 mg. Pemeliharaan: 25 mg 2-3x/hr, dapat ditingkatkan bertahap dengan selang waktu minimal 2 minggu. Maks 150 mg/hr. Lansia dianjurkan untuk memberikan dosis awal yang rendah.

Pemberian obat: berikan saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan.

Kontra indikasi : Stenosis aorta, gagal ginjal, hamil, laktasi, hipersensitif terhadap ACE inhibitor.

Efek samping: Proteinurea, peningkatan ureum darah dan kreatinin, ruam terutama pruritis, neutropenia, anemia, trombositopenia, hipotensi.

Interaksi obat: Imunosupresan, suplemen K atau diuretik yang mengandung K, probenesid, NSAID, diuretik.

Mekanisme kerja : inhibitor Angiotensin Converting Enzyme (ACE) yang mengubah Angiotensin  I menjadi Angiotensin  II, selain itu dapat menurunkan Angiotensin  II karena penurunan aktivitas plasma renin dan penurunan sekresi aldosteron. Mekanisme CNS kemungkinan terlibat dalam menghasilkan efek hipotensif. ACE inhibitor kemungkinan akan merubah kallikriens vasoaktif menjadi bentuk aktifnya (hormon) sehingga akan menurunkan tekanan darah.

Rencana Edukasi :

  • Berikan obat 1 jam sebelum makan.
  • Jika lupa minum obat diminum sesegera mungkin, bila mendekati jadwal minum obat selanjutnya jangan menggandakan dosis.

 

5.    Crestor®

Komposisi : Rosuvastatin 20 mg/tab

Indikasi : Hiperkolesterolemia primer atau dislipidemia sebagai terapi tambahan terhadap diet dan olahraga. Menurunkan kadar kolesterol total LDL, trigliserida, dan meningkatkan HDL.

Dosis : Awal 5-10 mg 1x/hr, baik pada pasien yang belum pernah mendapat terapi statin atau pasien yang menjalani pergantian terapi dari penghambat HMG-CoA reduktase lain, bila perlu dosis dapat ditingkatkan s/d tingkat dosis berikutnya sesudah 4 minggu. Lanjut Usia >70 tahun dan pasien dengan faktor predisposisi miopati Awal 5 mg. Pasien dengan gagal ginjal berat (bersiha kreatinin <30 ml/mnt yang tidak menjalani hemodiallisis Awal 5 mg 1x/hr maks 10 mg 1x/hr.

Pemberian obat : Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Kontra indikasi : Penyakit hati aktif termasuk peningkatan persisten kadar transaminase serum 3x dari batas atas nilai normal, miopati, pengguanaan bersama dengan siklosporin, wanita usia subur, hamil, dan laktasi.

Efek samping : Sakit kepala, pusing, konstipasi, mual, nyeri abdomen, mialgia, astenia.

Interaksi obat : Antagonis vitamin K, gemfibrosil dan obat penurun lemak lain, siklosporin, antasida, eritromisin, kontrasepsi oral, atau terapi sulih hormon.

Mekanisme kerja : Rosuvastatin bekerja secara kompetitif menghambat 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reduktase, enzim yang sangat berperan dalam katalisasi biosíntesis colesterol.

Rencana edukasi :

  • Gunakan obat ini pada  malam hari kecuali dinyatakan lain oleh dokter atau apoteker.
  • Obat ini sangat efektif jika digunakan bersama dengan olah raga dan diet mengurangi asupan makanan yang mengandung kolesterol (lemak) dan lemak jenuh.
  • Pasien disarankan untuk segera  memberitahukan  dokter jika mengalami nyeri otot, nyeri tekan (tenderness) dan kelemahan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Tes laboratorium diperlukan untuk memonitor terapi. Pastikan hal ini dilakukan.
  • Jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter
  • Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat. Ini termasuk sediaan herbal atau suplemen makanan yang lain
  • Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat  setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda.
  • Jika lebih dari satu kali dosis terlewat,  mulai kembali  pengobatan seperti awal dan mintalah nasehat dokter pada kunjungan berikutnya.

 

6.    Neurotam®

Komposisi : Piracetam 1200 mg/kaplet

Indikasi : Kemunduran daya pikir, astenia, gangguan adaptasi, gangguan reaksi psikomotor. Alkoholisme kronik dan adiksi. Disfungsi serebral sehubungan dengan akibat pasca trauma.

Dosis : Oral Sindroma psikoorganik yang berhubungan dengan penuaan Awal 6 kapsul atau 3 kaplet/hari dalam 2-3 dosis terbagi untuk 6 minggu. Pemeliharaan : 1,2 g/hr. Sindroma pasca trauma Awal 2 kapsul atau 1 kapl 3x/hr s/d mencapai efek yang diinginkan, lalu 1 kapsul atau ½ kaplet/hr. Inj IM atau IV 1 g 3x/hr.

Pemberian obat : Sesudah makan

Kontra indikasi : Kerusakan ginjal parah, hipersensitif.

Efek samping : Keguguran, lekas marah, sukar tidur, gelisah, gemetar, agitasi, lelah, gangguan GI, mengantuk.

Mekanisme kerja : piracetam adalah suatu nootropic agent.

Rencana edukasi :

  • Oleh karena piracetam seluruhnya dieliminasi melalui ginjal, peringatan harus diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal, oleh karena itu dianjurkan melakukan pengecekan fungsi ginjal.
  • Oleh karena efek piracetam pada agregasi platelet, peringatan harus diberikan pada penderita dengan gangguan hemostatis atau perdarahan hebat.

 

7.    Thrombo aspilets®

Komposisi : Acetyl salicylic acid 80 mg/tablet salut enterik.

Indikasi : Terapi dan pencegahan trombosis pada infark miokard akut atau pasca stroke

Dosis : 1-2 tab 1x/hr

Pemberian obat : Sesudah makan : telan utuh jangan dikunyah/dihancurkan

Kontra indikasi : Sensitif terhadap aspirin, asma, ulkus peptikum, perdarahan subkutan, hemofilia, trombositopenia, terapi anti koagulan.

Efek samping : Iritasi GI, mual muntah. Penggunaan jangka panjang : perdarahan GI, ulkus peptikum.

Mekanisme kerja : asetosal mencegah adhesi dan agregasi platelet dengan cara menghambat enzim siklooksigenase yang berfungsi membentuk tromboksan A2 dan prostasiklin. Tromboksan A2 merupakan suatu vasokonstriktor yang akan menginduksi pelepasan granul-granul intraseluler, sehingga berakibat agregasi platelet. Prostasiklin merupakan vasodilator yang akan menghambat agregasi platelet.

Rencana edukasi : Minum segera setelah makan dengan satu gelas air

 

8.    Paracetamol

Indikasi : Antipiretik dan Analgetik

Dosis : 1 kapl 3-4x/hr

Pemberian obat : Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan

Kontra indikasi : Gangguan fungsi hati berat

Efek samping : Kerusakan hati ( dosis besar, terapi jangka lama )

Interaksi obat : Memperkuat kerja vasopresin. Absorpsi asetaminofen dihambat oleh propantelin dan dipercepat,oleh metoklopramid.

Mekanisme kerja : Bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat.

Rencana edukasi :

  • Obat ini digunakan bila demam saja, jika sudah tidak demam jangan digunakan.
  • Jika nyeri atau demam sudah lebih dari 3 hari, hubungi dokter.

 

9.    Haloperidol

Indikasi : Status ansietas, gelisah dan psikis labil disertai dengan mudah marah, menyerang, astenia, delusi, halusinasi.

Dosis : Gejala sedang 0,5-2 mg/hr 2-3x/hr, gejala berat 3-5 mg/hr 2-3x/hr. Lansia 0,5-1,5 mg 2-3x/hr.

Pemberian obat : Dapat diberikan bersama makanan untuk mengurangi iritasi pada GI.

Kontra indikasi : Depresi endogen tanpa agitasi, gangguan syaraf dengan gejala piramidal atau ekstra piramidal, kondisi koma, depresi SSP berat.

Efek samping : Hipertonia dan gemetar pada otot, gerakan mata yang tidak terkendali, hipotensi ortostatik, galaktore.

Interaksi obat : Litium, metildopa, antikonvulsan, alkohol, depresan SSP, opiat.

Mekanisme kerja : Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak. Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis.

Rencana edukasi :

  • Obat ini untuk mengobati gangguan emosi, mental dan kecemasan.
  • Obat ini harus digunakan beberapa minggu sebelum efek penuh dicapai.
  • Bila digunakan lebih dari satu dosis/tablet per hari, segera minum obat bila lupa, tetapi bila sudah dekat dengan waktu minum kedua, tinggalkan dosis pertama dan mulai dengan dosis reguler.
  • Jangan hentikan minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Konsultasikan dengan dokter bila memakan obat lain. Bila merasakan reaksi yang tidak menyenangkan/menganggu karena memakan obat ini konsultasikan dengan dokter.

 

10.    New Diatabs®

Komposisi : atapulgit aktif 600 mg/tablet

Indikasi : Antidiare

Dosis : Dewasa dan anak > 12 tahun 2 tablet setiap setelah buang air besar, maksimum : sehari 12 tablet

 

11.    Hidroklortiazid

Indikasi : Penanganan hipertensi ringan sampai sedang, edema pada gagal jantung kongestif dan sindrom nefrotik.

Dosis : Oral (efek obat dapat diturunkan setelah digunakan setiap hari) Dewasa : Edema : 25-100 mg/hari dalam 1-2 dosis, maksimum 200 mg/hari. Hipertensi : 12.5 -50 mg/hari; peningkatan respon minimal dan gangguan elektrolit lainnya harus dipantau setelah > 50 mg/hari. Pasien lanjut usia : 12,5 – 25 mg sekali sehari. Penyesuaian dosis pada gangguan ginjal.

Kontra Indikasi : Diabetus mellitus, dan kemungkinan hipersensitivitas terhadap golongan obat ini.

Efek Samping : Hipotensi ortostatik, hipotensi, fotosensitivitas, hipokalemia, anoreksia, tekanan pada epigastrik.

Mekanisme Kerja : Inhibisi rearbsorpsi pada tubulus ginjal, akibatnya ekskresi natrium dan air meningkat.

Rencana Edukasi :

  • Obat dimakan bersamaan dengan makanan lain atau dengan susu.
  • Obat ini bisa menimbulkan rasa pusing dan kelelahan bila mengerjakan sesuatu, berdiri cukup lama, minum alkohol, merubah tubuh secara mendadak, atau bangun dari tempat tidur secara terburu-buru.
  • Jika mungkin jangan makan obat ini menjelang tidur, karena tidur anda akan terganggu karena akan sering buang air kecil.
  • Obat ini kemungkinan akan menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Jangan mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan mesin.
  • Hubungi dokter bila timbul rasa kelelahan pada otot atau rasa nyeri mendadak pada persendian .
  • Hubungi dokter bila timbul diare.

 

12.    Intervask®

Komposisi : Amlodipine besylate 10 mg/tablet

Indikasi : Hipertensi. Pengobatan angina prinzmetal dan angina pektoris stabil kronik.

Dosis : Hipertensi, angina Awal 5 mg 1 x/hr, dapt ditingkatkan s/d maks 10 mg/hr. Pasien dengan tubuh kecil, lemah atau lanjut usia, tau dengan gagal hati Awal 2,5 mg 1 x/hr.

Pemberian obat: Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap dihidropiridin. Stenosis aorta, angina tak stabil ( kecuali angina prinzmetal).

Perhatian : Gangguan fungsi hati, gagal jantung kongestif. Hamil dan laktasi, lanjut usia.

Efek samping :Sakit kepala, edema, lelah, mengantuk, mual, nyeri perut, rasa hangat dan kemerahan pada kulit, palpitasi, pusing.

Mekanisme kerja : Menghambat ion kalsium ketika memasuki saluran lambat atau area sensitif tegangan selektif pada otot polos vaskuler dan miokardium selama depolarisasi, menghasilkan relaksasi otot polos vaskuler koroner dan vasodilatasi koroner, meningkatkan penghantaran oksigen pada pasien angina vasospastik.

Rencana Edukasi :

  • Gunakan sesuai yang diresepkan, jangan menghentikan obat tanpa konsultasi dengan dokter.
  • Pasien mungkin akan mengalami sakit kepala (jika tidak dapat diatasi konsultasi ke dokter), mual dan muntah (makan sejumlah kecil makanan mungkin dapat membantu), atau konstipasi.
  • Dapat menyebabkan mengantuk, digunakan dengan hati-hati pada saat menyetir atau menjalankan mesin.
  • Kesesuaian penggunaan obat; kepatuhan terhadap terapi (penting untuk tidak menggunakan obat melebihi jumlah yang diresepkan). Kesesuaian dosis : bila lupa minum obat maka diminum, sesegera mungkin, jangan diminum bila telah mendekati pemberian dosis selanjutnya, jangan menggandakan dosis. Kesesuaian penyimpanan obat : untuk penggunaan sebagai antihipertensi, mungkin memerlukan kontrol berat badan dan diet khususnya pemasukan natrium.
  • Pasien mungkin tidak mengetahui/mengalami gejala dari hipertensi, penting untuk tetap menggunakan obat walaupun sudah merasa sehat untuk membantu mengontrol hipertensi.

Waktu paruh eliminasi 30-50 jam, meningkat pada pasien disfungsi hati.

 

13.    Lisinopril

Indikasi : Hipertensi dan gagal jantung kongestif (terapi sendiri atau bersama diuretik dan digitalis).

Dosis : Hipertensi Awal 2,5 mg/hr. Pemeliharaan : 10-20 mg/hr. Maks : 40 mg/hr. Gagal jantung kongestif Awal 2,5 mg/hr. Pemeliharaan : 10-20 mg/hr.

Pemberian obat : Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan

Kontra Indikasi : Angioneurotik edema karena terapi ACE inhibitor.

Perhatian : Hipotensi simptomatik terutama pada penderita dengan vol. cairan tubuh rendah dan gagal jantung kongestif. Hipotensi dapat terjadi pada pembedahan/anestesi. Penyakit jantung iskemik atau serebrovaskular. Kerusakan fungsi ginjal. Riwayat angioedema. Hamil dan laktasi.

Efek samping : Pusing, sakit kepala, diare, lesu, batuk, mual, ruam kulit, angioneurotik edema, hiperkalemia.

Interaksi obat : Diuretik hemat kalium, suplemen K, risiko hiperkalemia. Diuretik : efek aditif. Menurunkan eliminasi litium. Antasid mungkin dapat menurunkan bioavailibilitas inhibitor ACE (lebih sering terjadi dibanding kaptopril), pemberian diberi selang waktu selama 1-2 jam.

Mekanisme kerja : Inhibitor kompetitif Angiotensin Converting Enzyme (ACE) yang mengubah Angiotensin I menjadi Angiotensin II, selain itu dapat menurunkan Angiotensin II karena penurunan aktivitas plasma renin dan penurunan sekresi aldosteron. Mekanisme CNS kemungkinan terlibat dalam menghasilkan efek hipotensif. ACE Inhibitor kemungkinan akan merubah kallikriens vasoaktif menjadi bentuk bentuk aktifnya (hormon) sehingga akan menurunkan tekanan darah.

Waktu paruh eliminasi 11-12 jam.

 

14.    Chlorpromazine

Indikasi :  mengendalikan mual dan muntah, menghilangkan kegelisahan dan ketakutan.

Dosis : mual muntah : oral 10-25 mg setiap 4-6 jam, im, iv : 25-50 mg setiap 4-6 jam. Orang tua : Gejala-gejala perilaku yang berkaitan dengan demensia Awal : 10-25 mg sehari 1-2 kali, naikkan pada interval 4-7 hari dengan 10-25 mg/hr, naikkan interval dosis, sehari 2x, sehari 3x, dst. Bila perlu untuk mengontrol respons dan efek samping ; dosis maksimum 800 mg.

Kontra Indikasi : Hipersensitifitas terhadap klorpromazine atau komponen lain formulasi, reaksi hipersensitif silang antar fenotiazin mungkin terjadi, depresi SSP berat dan koma.

Perhatian : Pasien dengan depresi SSP, penyakit hati dan jantung berat, lanjut usia.

Efek samping : hipotensi postural, takikardia, pusing, perubahan interval QT tidak spesifik. Mengantuk, distonia, akhatisia, pseudoparkinsonism, diskinesia Tardif, sindroma neurolepsi malignan, kejang, fotosensitivitas, dermatitis, pigmentasi, laktasi, aminore, ginekomastia, pembesaran payudara, hiperglisemia, hipoglisemia, mual, konstipasi xerostomia, retensi urin, gangguan ejakulasi, impotensi, agranulositosis, eosinofilia, leukopenia, anemia hemolisis, anemia aplastik, purpura trombositopenia, jaundice, penglihatan kabur, perubahan kornea, dan lentikuler keratopati epitel, retinopati pigmen.

Mekanisme kerja : Memblok reseptor dopaminergik di postsinaptik mesolimbik otak. Memblok kuat efek alfa adrenergik. Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dandan emesis.

Waktu paruh bifasik, awal: 2 jam, akhir: 30 jam

 

15.    Dexanta®

Komposisi : Per 5 mL susp koloidal Al(OH)3 200 mg, Mg (OH)2 200 mg, simethicone 20 mg.

Indikasi : Hiperasiditas, tukak lambung, kembung, dyspepsia, heartburn.

Dosis : Susp 1-2 sdt 3-4 x/hr.

Pemberian obat : Berikan di antara waktu makan.

Perhatian : Diet rendah fosfat, disfungsi ginjal.

Efek samping : konstipasi, diare, obstruksi intestinal (dosis besar).

Interaksi obat : Mengurangi aktifitas tetrasiklin, Fe, INH, warfarin, kuinidin.

Mekanisme kerja : Menetralkan HCl dalam lambung

 

16.    Urispas®

Komposisi : Flavoksat hidroklorida 200 mg/tablet

Indikasi : Mengurangi gejala akibat gangguan sal. kemih seperti disuria, urgensi, nokturia, nyerisuprapubik, frequency dan incontinence yang terjadi pada penderita sistitis, prostatitis, uretritis, uretrosistitis, dan uretrogonitis.

Dosis : 3-4 x sehari 200 mg.

Kontra Indikasi : Penderita dengan obstruksi duodenal atau filorik, luka pada usus, akhlasia, pendarahan GI, dan obstruksi uropatik sal. Kemih bagian bawah.

Efek samping : Mual, muntah, mulut kering, gelisah, vertigo, sakit kepala, mengantuk, gangguan akomodasi mata, tekanan intraocular meningkat, gangguan penglihatan, bingung, disuria, takikardia, palpitasi, hiperpireksia, eosinofilia, leucopenia, urtikaria, dan dermatitis lainnya.

 

17.    KA-EN 3B

Komposisi : Per L Na 50 mEq, K 20 mEq, Cl 50 mEq, lactate 20 mEq, glucose 27 g.

Indikasi : Menyalurkan atau memelihara keseimbangan air dan elektrolit pada keadaan dimana asupan makanan per oral tidak mencukupi atau tidak mungkin.

Dosis : 500-1000 mL pada 1 x pemberian secara IV drip.

Kontra Indikasi : Hiperkalemia, oliguria, peny. Addison, luka baker berat, azotemia, kelebihan Na, sindrom malabsorpsi glukosa-galaktosa, cedera hati yang berat, aritmia jantung.

Perhatian : Gagal jantung kongestif, gagal ginjal, edema paru dan jaringan perifer, pre-eklamsia, hipertensi, post-traumatik, sepsis berat, asidosis, obstruksi sal . Kemih, DM.

Efek samping : Alkalosis, edema otak, paru, dan perifer, intoksikasi.

Interaksi obat : Ca.

 

18.    Injeksi Citicoline (Brainact®)

Komposisi : Citicoline Amp 500 mg/4 mL

Indikasi : Gangguan kesadaran yang menyertai kerusakan atau cedera serebral, trauma serebral, operasi otak, dan infark serebral. Mempercepat rehabilitasi tungkai atas dan bawah pada pasien hemiplegia apopleksi.

Dosis : Gangguan kesadaran karena cedera kepala atau operasi otak 100-500 mg 1-2x/hr secara IV drip atau injeksi. Gangguan kesadaran karena infark serebral 1000 mg 1x/hr secara injeksi IV. Hemiplegia apopleksi 1000 mg 1x/hr secara oral atau injeksi IV

Pemberian obat : Berikan pada saat makan atau diantara waktu makan

Efek samping : hipotensi, ruam, insomnia, sakit kepala, diplopia.

Mekanisme Kerja :

  • Citicoline meningkatkan kerja formatio reticularis dari batang otak, terutama system pengaktifan formatio reticularis ascendens yang berhubungan dengan kesadaran.
  • Citicoline mengaktifan system pyramidal dan memperbaiki kelumpuhan system motoris.
  • Citicoline menaikkan konsumsi O2 dari otak dan memperbaiki metabolism otak.

 

19.    Injeksi Ranitidin

Komposisi : Ranitidine HCl Amp 50 mg/2 mL

Indikasi : Ulkus peptikum, ulkus gaster non maligna. Kondisi hipersekresi patologis.

Dosis : Ulkus duodenum 150 mg 2x/hr atau 300 mg 1x/hr pada malam hari. Pencegahan kekambuhan ulkus 150 mg sebelum tidur.  Sindroma Zollinger Ellison 150 mg 3x/hr.

Pemberian obat : Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan

Efek samping : Sakit kepala, pusing, gangguan GI, ruam kulit.

Interaksi obat : Mengurangi bersihan dari warfarin, prokaii danamide, N-acetil prokainamid. Meningkatklan absorpsi dari midazolam, menurunkan absorpsi dari cobalamin.

 

20.    Reotal®

Komposisi : pentoxyfilline 20 mg/mL (sediaan ampul 5 mL injeksi)

Indikasi : penyumbatan pembuluh darah kronik pada tungkai

Dosis : infus IV : 100 mg (1 ampul) dalam 250-500 mL larutan infus untuk 90-180 menit, dapat ditingkatkan dengan 50 mg/hari sampai dengan maksimal 400mg/hari.

Kontra indikasi : infark miokard, perdarahan hebat, sklerosis serebral, aritmia jantung berat, hamil, laktasi, anak <18 tahun.

Efek samping : mual, malaise, gangguan lambung, vertigo, pruritis, urtikaria, edema angioneuritk.

 

21.    Injeksi Ceftriaxone

Komposisi : seftriakson 1 gram/vial

Indikasi : Pengobatan infeksi saluran nafas bagian bawah, Otitis media bakteri akut, Infeksi kulit dan struktur kulit, Infeksi tulang dan sendi, Infeksi intra abdominal, Infeksi saluran urin, Penyakit inflamasi pelvic (PID), Gonorrhea, Bakterial septicemia dan meningitis

Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap seftriakson, komponen lain dalam sediaan dan sefalosporin lainnya. Neonatus Hyperbilirubinemia.

Efek samping : Kulit : Rash (2%), Saluran cerna : diare (3%), Hepar : peningkatan transaminase (3,1%-3,3%), Hematologi : eosinophillia (6%); thrombositosis (5%); leukopenia (2%), Lokal : Nyeri selama injeksi (I.V 1%); rasa hangat, tightnes selama injeksi (5%-17%) diikuti injeksi I.M.

Dosis : Dewasa : I. M.;  I. V. Usual dosis I. M.;  I. V. : 1-2 g setiap 12-24 jam tergantung tipe dan keparahan infeksi.

Interaksi Obat :

  • Chephalosporin : menigkatkan efek antikoagulan dari derivat kumarin(Dikumarol dan Warfarin)
  • Agen urikosurik: (Probenesid, Sulfinpirazon) dapat menurunkan ekskresi sefalosporin,  monitor efek toksik.

Mekanisme Kerja : Menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga bakteri akan mengalami lisis.

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

  1. Berdasarkan anamnesa pasien Tn N mengalami suspect stroke iskemik dan setelah dilakukan CT scan diketahui pasien menderita stroke iskemik.
  2. Berdasarkan terapi obat yang diperoleh pasien, sudah ada korelasi antara terapi obat dengan penyakit pasien dan sudah merupakan pilihan obat yang sesuai, tepat indikasi, dan efektif untuk kasus Tn. N.
  3. Pasien mengalami reaksi alergi. Piracetam (Neurotam®) tidak dapat ditoleransi oleh pasien, dimana pasien sering muntah sehingga pemakaian piracetam di stop. Piracetam dan Citicoline sebagai neuroprotektor. Piracetam distop, neuroprotektor yang digunakan Citicoline.
  4. Terapi yang digunakan untuk pengobatan stroke pasien yaitu Citicoline (Brainact®) dan Asetosal (Thrombo Aspilets®)

RUJUKAN

1.      Diana Lyrawati. (2008). Arteriogenesis Dan Angiogenesis Pada Stroke Hemoragik: Mempertajam Konsep untuk Memperoleh Manfaat Terbaik Neovaskularisasi (Pembentukan Pembuluh Darah Baru. Jurnal Kedokteran Barwijaya Vol. XXIV, No.2, Agustus 2008.

2.      DiPiro, J.T., et al. (2005). Pharmacoterapy Handbook : A Pathophysiologic Approach. (6th ed). United States of America : Mc Graw Hill Companies.

 

3.      Mansjoer, A., dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi 3 Jilid 2). Jakarta : Penerbit Media Ausculapius FKUI.

 

4.      Anastasia, A., dkk. (2007). Pengetahuan Tentang Pencegahan Stroke pada Klien yang Mempunyai Faktor Resiko Terserang Stroke Di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Garut.

 

5.      Price, S.A., and Wilson, L.M. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. (Edisi Keempat). Penerjemah: P. Anugerah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

6.      Anderson, P.O.,etc. (2002). Handbook of Clinical Drug Data. (10th Edition). United State of America : The McGraw-Hill Companies.

7.      Bailie, G.R., (2004). MedFacts Pocket Guide of Drug Interaction. (2nd Edition). London : Bond Care International, Inc and Nephrology Pharmacy Associates, Inc.

8.      Pelayanan Informasi Obat. (2006). Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

9.      MIMS Indonesia, Petunjuk Konsultasi, Edisi 9 2009/2010.

10.  Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. (2008). Informasi Spesialite Obat. Volume 43 2008 s/d 2009. Jakarta : PT ISFI Penerbitan.

11.  Uchino, K., et all. (2007). Acute Stroke Care. New York, United Stated of America: Cambridge University Press.

12.  Katzung Pharmachology.pdf

 

Posted in Uncategorized | 6 Comments

KASUS DEMAM TIFOID DI RUANG ANAK RSSN BUKITTINGGI

Rabu, 17 Maret 2010, Preseptor I : dr. Yelli Sp.A, Preseptor II : Drs. Yufri Aldi MS, Apt

PENDAHULUAN

Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan menimbulkan gangguan pada saluran gastrointestinal dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, dan gangguan kesadaran. Salmonella typhi, basil Gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurangnya empat macam antigen, yaitu antigen O (somatik),  H (flagela), Vi, dan protein membran hialin1.

Masa tunas rata-rata 14 hari. Gejala klini

s sangat bervariasi dan tidak spesifik. Gejala klinis yang terjadi biasanya : rasa tak enak badan; demam remiten pada minggu pertama, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari; lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, bradikadi relatif; nyeri kepala; nyeri perut; gangguan pola defekasi diare atau obstipasi; nyeri tekan perut kanan bawah; hepatomegali. Akhir minggu pertama timbul roseola (rose spots) pada kulit dada atau perut (jarang ditemukan pada kulit yang berwaran gelap). Pada tingkat lanjut/ berat, kesadaran menurun atau terdapat delirium. Waktu penyembuhan demam turun dan gejala-gejala menurun1,2.

Pada kesempatan ini, kami membahas pasien yang berusia 12 tahun dengan diagnosa utama demam tifoid dan diagnosa tambahan hepatitis virus A.

—————————————————————————————————————-

ILUSTRASI KASUS

Seorang pasien laki-laki, umur 12 tahun dirawat di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi tanggal 2 Maret 2010 dikirim oleh Poli Anak dengan

Riwayat penyakit sekarang/ Anamnesa :

Demam selama 2 hari yang lalu, sakit kepala, pusing, lidah putih, BAK berwarna kuning

Riwayat penyakit terdahulu :

Demam  selama 2 hari (24 Februari 2010)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum           : Sedang

Tingkat Kesadaran      : CM

Kepala                         : normal

Mata                            : sklera ikterik

Telinga                        : normal

Hidung                        : normal

Mulut                          : normal

Leher                           : normal

Dada                           : dalam batas normal

Paru-paru                     : dalam batas normal

Jantung                        : dalam batas normal

Pembuluh darah          : dalam batas normal

Perut                            : hepar ¼-¼ nyeri tekan (+)

Punggung                    : normal

Alat kelamin                : normal

Anus dan rektum        : normal

Anggota gerak                        : normal

Kulit                            : normal

Berat Badan                : 28 kg

Data Organ Vital

Suhu                            : 36,5 oC

Frekuensi pernapasan  : 20 x/menit

Frekuensi nadi             : 88 x/menit

Diagnosis

Diagnosa utama : Demam tifoid

Diagnose tambahan : Hepatitis Virus A

Penatalaksanaan

IVFD RL 18 tetes/menit

Parasetamol 500mg 4x¾ tablet

Neurodex® (Vit. B1 100 mg, Vit. B6 200 mg, Vit. B12 250 mcg) 1×1

Antacid 3x1cth

MLDSC (makanan lunak diit saluran cerna) 1700 kkal

Cek lab Hb, leukosit, hematokrit, trombosit, Widal test

Data Lab (tanggal 2 maret 2010)

  • Sel darah putih 6,6×103 /mm3 (4,0-10,0)
  • Sel darah merah 5,83 106/mm3 (3,80-5,80)
  • Hemoglobin 12,5 g/dL                                               (11,0-16,5)
  • Hematokrit 39,3 %                                                     (35,0-50,0)
  • Platelet/trombosit 280×103/mm3 (150-450)

Widal Test

Salmonella thypii 1/160

Salmonella para thypii AH 1/160

Salmonella para thypii BH (-)

Salmonella para thypii CH (-)

Salmonella thypii O 1/320

Salmonella para thypii AO 1/160

Salmonella para thypii BO 1/320

Salmonella para thypii CO 1/180

Data Penunjang

Alergi/ Intoleran : tidak ada

Permasalahan sosial yang berhubungan dengan obat

Alkohol : -

Coffein : -

Tembakau : -

Biaya pengobatan : Asuransi/ ASKES/ Jamkesmas/ Umum

Follow Up

Hari ke-2 rawatan (3 Maret 2010)

S : demam sudah tiga hari, demam turun naik, lidah putih, mual, hepar ¼-¼ nyeri tekan (+)

O : TD 110/60 mmHg             Nadi 82x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36oC

Hasil laboratorium

Darah :

  • Sel darah putih 5,3×103/mm3 (4,0-10,0)
  • Sel darah merah 5,36 106/mm3 (3,80-5,80)
  • Hemoglobin 11,8 g/dL                        (11,0-16,5)
  • Hematokrit 36,0 %                              (35,0-50,0)
  • Trombosit 262×103/mm3 (150-450)
  • SGOT 290 U/L                                   (<31)
  • SGPT 2 U/L                                        (<32)
  • Total bilirubin 6,6 mg%                      (0,3-1,0)
  • Bilirubin direk 0,9 mg%                      (0,0-0,4)
  • Bilirubin indirek 5,7 mg%                   (0,0-0,6)
  • HbsAg (-) negatif

Urin :

  • Protein (-)
  • Bilirubin +2
  • Leukosit 2-3
  • Eritrosit 0-1
  • Epitel (+)
  • Kristal amorf (+)
  • Kristal Ca oxalate (-)

Feses :

Konsistensi : padat

Warna : kuning kecoklatan

Darah (-)

Lender (-)

Mikroskopis lemak, amuba, leukosit (-)

Telur cacing(-)

A : demam tifoid + suspect hepatitis tifosa

P : terapi lanjut

Curcuma 2×1 tab

Kloramfenikol 500 mg 3×1

Cek lab Hb, leukosit, hematokrit, trombosit

Hari ke-3 rawatan (4 Maret 2010)

S : mual berkurang, ikterik (+), NT (nyeri tekan) epigastrum (+), NT hepar ¼-¼ (+)

O : TD 90/60 mmHg               Nadi 80x/menit           Nafas 22x/menit          Suhu 36 oC

Hasil laboratorium

Darah :

  • Sel darah putih 5,1×103/mm3 (4,0-10,0)
  • Sel darah merah 5,51 106/mm3 (3,80-5,80)

  • Hemoglobin 11,7 g/dL                        (11,0-16,5)
  • Hematokrit 36,3 %                              (35,0-50,0)
  • Trombosit 247×103/mm3 (150-450)

P : terapi lanjut

Cek lab Hb, leukosit, hematokrit, trombosit

Hari ke-4 rawatan (5 Maret 2010)

S : mual berkurang, ikterik (+), NT (nyeri tekan) epigastrum berkurang, NT hepar ¼-¼ berkurang

O : TD 90/65 mmHg               Nadi 80x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

Hasil laboratorium

Darah :

  • Sel darah putih 5,1×103/mm3 (4,0-10,0)
  • Sel darah merah 5,17 106/mm3 (3,80-5,80)
  • Hemoglobin 11,0 g/d                          (11,0-16,5)
  • Hematokrit 34,2 %                              (35,0-50,0)
  • Trombosit 298×103/mm3 (150-450)

P : terapi lanjut

Cek lab Hb, leukosit, hematokrit, trombosit

Cek urin 2x seminngu

Cek IgM  anti HBc + IgM anti HAV 1x seminggu

Hari ke-5 rawatan (6 Maret 2010)

S : mual (-), ikterik (-)

O : TD 100/60 mmHg             Nadi 80x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

P : terapi lanjut

IVFD stop

Vistrum 3×1 cth

Hari ke-6 rawatan (7 Maret 2010)

O : TD 90/65 mmHg               Nadi 80x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

Hari ke-7 rawatan (8 Maret 2010)

S : mual (-), ikterik (-), KU : sedang

O : TD 110/70 mmHg             Nadi 80x/menit           Nafas 22x/menit          Suhu 36 oC

Urin :

  • Protein +1
  • Bilirubin +2
  • Leukosit 1-3
  • Eritrosit 0-1
  • Epitel +1
  • Kristal amorf +1
  • Kristal Ca oxalate 1-2

P : terapi lanjut

Hari ke-8 rawatan (9 Maret 2010)

S : demam (-), BAk berwarna putih, KU : sakit, NT hepar ¼-¼ (-)

O : TD 100/70mmHg              Nadi 86x/menit           Nafas 22x/menit          Suhu 36 oC

P : terapi lanjut

Hari ke-9 rawatan (10 Maret 2010)

S : demam (-), KU : sedang

O : TD 100/60mmHg              Nadi 76x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

SGOT 63 U/L                         (<51 U/L)

SGPT 230 U/L                        (<39U/L)

Anti HBc IgM (-) 0,05            (indeks < 0,8 : negatif)

Anti HAV IgM (+) 6,25         (indeks >1,2 : positif)

P : terapi lanjut

Hari ke-10 rawatan (11 Maret 2010)

S : demam (-), KU : sedang

O : Nadi 80x/menit     Nafas 22x/menit          Suhu 36 oC

Urin

  • Bilirubin (-)

P : terapi lanjut, cek urin

Hari ke-11 rawatan (12 Maret 2010)

S : demam (-), ikterik (-)

O : TD 110/60mmHg              Nadi 80x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

IgM anti HAV (+) 6,25

A : Hepatitis A Virus

P : terapi lanjut

Hari ke-12 rawatan (13 Maret 2010)

S : demam (-), KU : sedang

O : TD 100/70mmHg              Nadi 84x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

P : terapi lanjut

Hari ke-13 rawatan (14 Maret 2010)

O : TD 110/60mmHg              Nadi 80x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

Hari ke-14 rawatan (15 Maret 2010)

S : demam (-), KU : sedang

O : TD 100/60mmHg              Nadi 80x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

Urin :

  • Protein, Bilirubin, Reduksi (-)
  • Leukosit 0-2
  • Eritrosit 1-2
  • Epitel +1
  • Kristal amorf +1

P : terapi lanjut

Rabu cek SGOT, SGPT

Hari ke-15 rawatan (16 Maret 2010)

O : TD 90/60mmHg                Nadi 76x/menit           Nafas 20x/menit          Suhu 36 oC

Hari ke-16 rawatan (17 Maret 2010)

S : demam (-), KU : sedang

O : SGOT 42 U/L                               (<31)

SGPT 78 U/L                                (<32)

Total bilirubin 0,8 mg%                (0,3-1,0)

Bilirubin direk 0,7 mg%                (0,0-0,4)

Bilirubin indirek 0,1 mg% (0,0-0,6)

P : Neurodex®, Curcuma, pasien pulang

—————————————————————————————————————-

DISKUSI

Pasien An. I berusia 12 tahun, pada tanggal 2 Maret 2010 dirawat di RSSN Bukittinggi. Pasien dikirim oleh Poli Anak jam 11.30. Berdasarkan anamnesa yaitu demam selama 2 hari, sakit kepala, pusing, lidah putih, BAK berwarna kuning, pasien didiagnosa utama menderita demam tifoid dan diagnosa tambahan suspect hepatitis virus A. Dari anamnesa pasien sudah menunjukkan bahwa pasien menderita tifoid. Gejala klinis demam tifoid yang terdapat pada pasien diantaranya demam, bradikardi relatif, nyeri kepala, nyeri tekan perut, lidah kotor. Untuk diagnosa tambahan suspect hepatitis virus A, berdasarkan anamnesa BAK kuning dan sklera mata ikterik. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonalla typhii. S. typhii dapat hidup lama dalam air kotor dan makanan yang tercemar. Berdasarkan pernyataan orang tua pasien, demam tifoid yang diderita pasien disebabkan oleh kebiasaan pasien yang suka jajan sembarangan.

S. typhii mempunyai tiga jenis antigen : antigen O, H, Vi. Pada rekasi Widal titer aglutinin O dan H meningkat. Pemeriksaan Widal dinyatakan positif bila titer antibodi terhadap antigen O berrnilai ≥ 1/200. Dari hasi Widal test pasien tanggal 2 Maret 2010, menunjukkan bahwa titer antibodi terhadap antigen O berrnilai 1/320, artinya pasien positif menderita demam tifoid.

Obat-obat yang diberikan pada Ananda I. :

1.      IVFD RL 18 gtt/menit (mulai 2/3 stop 6/3)

2.      Parasetamol 500 mg 4x¾ tablet (mulai 2/3 stop 9/3)

3.      Neurodex® (Vit. B1 100 mg, Vit. B6 200 mg, Vit. B12 250 mcg) 1x1tablet (mulai 2/3 lanjut)

4.      Antacid (Per 5 mL susp koloidal Al(OH)3 200 mg, Mg (OH)2 200 mg, simethicone 20 mg) 3x1cth (mulai 2/3 lanjut)

5.      Curcuma 2×1 tablet (mulai 3/3 lanjut)

6.      Kloramfenikol 500 mg 3×1 (mulai 3/3 stop 15/3)

7.      Vistrum® 3x1cth (mulai 6/3 lanjut)

Tanggal 2 Maret, terapi yang diberikan hanya parasetamol 4×3/4 tablet, Neurodex® 1×1 tablet, Antacid 3x1cth. Parasetamol diberikan sebagai antipireik, neurodex sebagai vitamin untuk mengatasi mual dan badan lemah, antacid sebagai terapi mual karena mekanisme kerja antasid yang dapat mentralkan asam lambung, asam lambung yang tinggi dapat menyebabkan mual. Dokter belum memberikan terapi untuk pengobatan tifoid dan hepatitis A virus, karena pemeriksaan labor belum keluar.

Perhitungan dosis parsetamol

Dosis parasetamol untuk anak : 10-15 mg/kgBB/dosis.

Dosis parasetamol untuk BB 28 kg : 8kg x 10-15 mg/kgBB = 280-420 mg/dosis

Parasetamol 1xpakai : ¾ tablet x 500 mg = 375 mg

Dosis parasetamol untuk pasien memenuhi dosis lazim.

Perhitungan dosis antacid

Dosis antacid : 3×400-800mg/hari. 1200-2400 mg/hari3

Sediaan suspensi mengandung alumunium hidroksida 200/5mL + Magnesium hidrokisida 200mg/mL = 400mg/dosis

Dosis antacid untuk pasien per hari : 3x 400mg/dosis = 1200 mg/hari

Dosis untuk pasien sudah memenuhi dosis lazim.

Tanggal 3 Maret 2010, dokter menambahkan terapi curcuma 2×1 tablet dan kloramfenikol 3×500 mg. Hasil Widal test positif dan hasil test SGOT, SGPT, bilirubin menjukkan pasien menderita tifoid dan suspect hepatitis tifoid. Curcuma tablet diberikan sebagai hepatoprotektor. Kloramfenikol digunakan sebagai antibiotik lini pertama untuk tifoid.

Perhitungan dosis kloramfenikol4

Dosis kloramfenikol : 50-75mg/hari tiap 8 jam

Dosis kloramfenikol untuk BB 28 kg : 28 kgx50-100/kgBB/hari = 1400-2800 mg/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari, dosis maksimal kloramfenikol 2 gram/hari

1 dosis/1xpakai =  = 467-667 mg

Dosis pasien per hari = 3x500mg=1500mg (1400mg-2000mg)

Dosis pasien 1xpakai = 500 mg (467-667mg)

Dosis kloramfenikol sudah memenuhi dosis lazim.

Pemakaian kloramfenikol sebaiknyaa saat perut kosong 1 jam sebelum makan, karena absorpsinya akan berkurang dengan adanya makanan4.

Dokter menginstruksikan untuk melakukan pemeriksaan leukosit, eritrosit, Hb, hematokrit, trombosit, bilirubin urin, SGOT, SGPT, total bilirubin, bilirubin direk, dan bilirubin indirek. Pemeriksaan ini bertujuan untuk pemeriksaan laboratorium terhadap penyakit hepatitis. Pemeriksaan lab pada hepatitis : leukosit sering menurun, transaminase serum meningkat 10-100 kali harga normal sebelum timbul ikterus (ini penting untuk diagnosa hepatitis yang anikterik), bilirubinuria. Ikterus pada sklera mata baru terlihat bila bilirubin melebihi 2,5 mg/dL, hiperbilirubinemia biasanya mencapai 10 mg/dL dalam 2 minggu, kemudian berangsur turun dalam masa penyembuhan, fraksi bilirubin terkonyugasi/direk biasanya lebih tinggi dari fraksi tak terkonyugasi/indirek1.

Berdasarkan pemeriksaan lab tanggal 2, 3, 4, 5 Maret 2010, pasien mengalami penurunan leukosit berturut-turut yaitu 6600, 5300, 5100, dan 5100/mm3. Pemeriksaan lab tanggal 3/3, SGOT pasien mengalami peningkatan ±10 kali nilai normal yaitu 290 U/L (normal 31 U/L). Pemeriksaan lab tanggal 10/3, SGPT pasien mengalami peningkatan yaitu 230 U/L (normal 32 U/L). Pada pemeriksaan lab tanggal 3/3, bilirubinuria +2, hiperbilirubinemia dengan nilai bilirubin pasien 6,6 mg% (normal 0,3-1,0), nilai bilirubin indirek (5,7 mg%, normal 0,0-0,6) lebih tinggi dari pada bilirubin direk (0,9 mg%, normal 0,0-0,4). Tanggal 10/3 hasil labor anti HAV IgM pasien 6,52  (>1,2 positif, <0,8 negatif). Berdasarkan hasil lab ini pasien menderita hepatitis A.

Pada pemeriksaan tanggal 11/3 dan 15/3 bilirubin pasien negatif. Tanggal 17/3 hasil laboratorium menunjukkan total bilirubin 0,8 mg% berkurang jauh, dimana sebelumnya tanggal 3/3 total bilirubin 6,6 mg%; bilirubin direct (0,7 mg%) lebih tinggi dari bilirubin indirect (0,1 mg%), dimana sebelumnya tanggal 3/3 bilirubin indirect jauh lebih tinggi (5,7 mg%) dari bilirubin direct (0,9 mg%).  Dari hasil lab ini  mengindikasikan keadaan pasien berangsur-angsur membaik.

Pada tanggal 6/3, terapi ditambah dengan Vistrum® 3×1 cth yang digunakan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan fungsi GI. Tanggal 9/3 pemakaian paracetamol di stop karena pasien sudah tidak demam. Tanggal 15/3 pemakaian kloramfenikol dihentikan setelah 13 hari pemakaian, lama terapi antibiotic untuk demam tifoid 7-14 hari.

Tanggal 17/3 pasien sudah diperbolehkan pulang, karena penyakit hepatitis yang diderita Ananda I. sudah berangsur-angsur membaik dan penyakit tifoid sudah sembuh. Terapi yang diberikan dokter Curcuma dan Neurodex®.

—————————————————————————————————————-

TINJAUAN OBAT YANG DIGUNAKAN4, 5, 6

1.    Infus RL

Komposisi : Per 1000 mL Na 130 meq/L, Cl 109 meq/L, K 4 meq/L, Ca 2,7 meq/L, Lactate 28 meq/L, (NaCl 6 g, KCl 0,3 g, CaCl2 0,2 g, Na Lactate 3,1 g, Water for injection 1000 mL). Osmolaritas ; 273 mOsm/L

Indikasi : Terapi untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral

2.    Paracetamol

Indikasi : Antipiretik dan Analgetik

Dosis : 10-15mg/kg BB

Pemberian obat : Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan

Kontra indikasi : Gangguan fungsi hati berat

Efek samping : Kerusakan hati (dosis besar, terapi jangka lama)

Interaksi obat : Memperkuat kerja vasopresin. Absorpsi asetaminofen dihambat oleh propantelin dan dipercepat oleh metoklopramid.

Mekanisme kerja : Bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat.

Rencana edukasi :

  • Obat ini digunakan bila demam saja, jika sudah tidak demam jangan digunakan.
  • Jika nyeri atau demam sudah lebih dari 3 hari, hubungi dokter.

3.    Neurodex®

Komposisi : vitamin B1 100 mg, vitamin B6 200 mg, vitamin B12 250 mcg.

Indikasi : Gejala neorotropik karena defisiensi vitamin B, gangguan neurologik, mual dan muntah pada kehamilan, anemia, robonsia untuk kejang, lesu, dan usia lanjut.

Pemberian obat: Dapat diberikan bersamaan dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.

Dosis : 1 tablet 2-3 x sehari.

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap vitamin B.

Rencana Edukasi : Sebaiknya diminum pada pagi dan siang hari sesudah makan.

4.        Antacid

Komposisi : Per 5 mL susp koloidal Al(OH)3 200 mg, Mg (OH)2 200 mg, simethicone 20 mg.

Indikasi : Hiperasiditas, tukak lambung, kembung, dyspepsia, heartburn.

Dosis : Susp 1-2 sdt 3-4 x/hr.

Pemberian obat : Berikan di antara waktu makan.

Perhatian : Diet rendah fosfat, disfungsi ginjal.

Efek samping : konstipasi, diare, obstruksi intestinal (dosis besar).

Interaksi obat : Mengurangi aktifitas tetrasiklin, Fe, INH, warfarin, kuinidin.

Mekanisme kerja : Menetralkan HCl dalam lambung

5.    Curcuma

Komposisi : Bubuk dari akar curcuma 200 mg/tablet

Indikasi dan Dosis : Anoreksia 1-2 tab 2-3 kali sehari. Ikterus karena obstruksi Awal 1-2 tab 2-3 kali sehari. Jika gejala berlanjut, dilanjutkan dengan ½-1 tab 2-3 kali sehari

6.    Kloramfenikol

Indikasi : Demam tifoid

Dosis: Anak Oral : 50 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi, untuk infeksi berat hingga 100 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi, kurangi dosis tinggi segera setelah terjadi perbaikan gejala klinis.

Kontra Indikasi :    Hipersensitifitas, gangguan hati dan ginjal berat.

Efek Samping : Anemia aplastik, leukopenia, trombositopenia. Hemoglobinuria nokturnal, neuritis perifer. Mual, muntah, diare, mulut kering, stomatitis. Sakit kepala, depresi. Reaksi hipersensitivitas. Sindroma Grey (muntah, diare kehijauan, hipotemi, sianosis, respirasi irregular, kegagalan sirkulasi) setelah penggunaan dosis besar pada neonates dengan metabolisme hati yang imatur.

Perhatian : Evaluasi hematologi harus dilakukan secara periodik terutama pada penggunaan jangka lama. Insufusiensi ginjal dan hati. Tidak dianjurkan untuk pencegahan infeksi, flu, batuk, dan selesma. Bayi prematur dan bayi baru lahir. Hamil dan laktasi.

Interaksi Obat :

  • Golongan barbiturat : Penurunan kadar serum kloramfenikol, penurunan klirens barbiturat, sehingga terjadi toksisitas barbiturat.
  • Rifampin : Pemberian bersamaan dapat menurunkan kadar serum kloramfenikol melalui induksi enzim.
  • Siklosfosfamid: Menurunkan aktivasi siklosfosfamid, terjadi penurunan efek.
  • Antikoagulan : Meningkatkan aksi antikoagulan.
  • Garam besi : Meningkatkan kadar besi dalam serum.
  • Penisilin : Terjadi efek sinergistik, dapat terjadi efek antagonis.
  • Golongan sulfonilurea : terjadi efek hipoglikemi pada penggunaan bersamaan.
  • Vitamin B12 : Efek hematologi vitamin B12 diturunkan karena adanya anemia pernisiosa akibat efek samping kloramfenikol.

Mekanisme Kerja : Secara reversibel berikatan dengan 50S subunit ribosom pada organisme yang sensitif untuk menghambat terjadinya mekanisme transfer asam amino yang dibutuhkan untuk pembentukan rantai peptida, sehingga hal ini akan menghambat sintesis protein sel bakteri.

7.    Vistrum®

Komposisi : Per 5 ml sirup Colostrum bovine 250 mg, Zn 3 mg, fructo-oligosaccharide 1,5 g.

Indikasi : Membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan fungsi gastrointestinal anak.

Dosis : Anak >4 tahun 3 sdt, 1-4 tahun 1 sdt. Diberikan 1 kali sehari.

Pemakaian Obat : Dapat diberikan bersama atau tanpa makan

KESIMPULAN

  1. Berdasarkan anamnesa pasien An. I mengalami suspect tifoid dan hepatitis virus A. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratoium diketahui pasien menderita tifoid dan hepatitis virus A.
  2. Berdasarkan terapi obat yang diperoleh pasien, sudah ada korelasi antara terapi obat dengan penyakit pasien dan sudah merupakan pilihan obat yang sesuai, tepat indikasi, dan efektif untuk kasus An. I.

RUJUKAN

1.      Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam. 2008. Edisi III. Surabaya : RSU Dokter Soetomo.

2.      Mansjoer, A., dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi 3 Jilid 2). Jakarta : Penerbit Media Ausculapius FKUI.

3.      Mansjoer, A., dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi 3 Jilid 1). Jakarta : Penerbit Media Ausculapius FKUI.

4.      Pelayanan Informasi Obat. (2007). Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

5.      MIMS Indonesia, Petunjuk Konsultasi, Edisi 9 2009/2010.

6.      Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. (2008). Informasi Spesialite Obat. Volume 43 2008 s/d 2009. Jakarta : PT ISFI Penerbitan.


Posted in Uncategorized | Leave a comment

KASUS ISK DI RUANG ANAK RSSN BUKITTINGGI

Data Umum

No. MR           : 01.11.61                                Ruangan         : Anak Kelas III

Nama Pasien   : Mira Sarmiati                        Dokter            : dr. Yelli Sp.A

Alamat            : Kubang Putih Banu Hampu  Farmasis         : Ayu Minang Abriani

Jenis Kelamin  : Perempuan                            Agama            : Islam

Umur               :  14 tahun                               Pekerjaan        : Pelajar SMP kelas 2

Tinggi              : ± 150 cm                               Berat              : 41 kg

 

Pasien masuk ke ruang anak tanggal 10 Maret 2010 jam 21.15 melaui IGD dengan :

Riwayat Penyakit Sekarang/Anamnesa :

Buang air kecil kurang lancar sejak 2 hari yang lalu (8 Maret 2010)

Sakit saat buang air kecil

Nafsu makan biasa

Demam (-)

Diagnosa Kerja : Suspect ISK + retensi urin + oliguri

Terapi /Tindakan Dokter :

IVFD KA-EN 1B 26 gtt/menit

Kompres buli-buli panas dingin

Periksa urin lengkap, darah rutin, ureum, creatinin

Kontrol TD 2x/hari

Cefixime 2x100mg

Sejarah pengobatan/Pembedahan yang telah dialami

-

Riwayat Penyakit Sebelumnya

-

Riwayat Penyakit Keluarga

Belum ada keluarga yang pernah menderita ISK

Data Hasil Pemeriksaan Fisik dan Data Penunjang Lain

KU : sedang

Tingkat kesadaran : CM

Ubun-ubun : datar

Hidung : bersih

Pendengaran : normal

Leher : normal

Thyroid : normal

Suprasternal : normal

Kardiovaskular : normal

Volume urin

Tanggal Jam Jumlah
11/3 09.00 50 cc
  16.05 150 cc
12/3 07.00 250 cc

Data Organ Vital

Tanggal Tek. Darah (mmHg) Nadi (x/menit) Pernafasan (x/menit) Suhu (oC)
10/3  Malam 120/80 64 20 36
11/3  Pagi 120/80 66 24 36
Siang 110/80 72 24 36
Malam 110/90 60 20 36
12/3  Pagi 110/60 69 22 36

 

Data Laboratorium Tanggal 10 Maret 2010

Urin :

Leukosit 2-4

Eritrosit 0-2

Epitel +1

Kristal amorf +1

Darah :

Sel darah putih 8,9×103/mm3 (Normal 4-10 x103/mm3)

Sel darah merah 4,7×106/mm3 (Normal 3,8-5,8×106/mm3)

Hemogloblin 10,6 g/dL                         (Normal 11-16,5 g/dL)

Hematokrit 33,6%                                 (Normal 35-50%)

Platelet/Trombosit 456×103/mm3 (Normal 150-450)

Ureum 17 mg%                                               (Normal 20-40 mg%)

Kreatinin 0,6%                                                (Normal 0,6-1,1 mg%)

 

Alergi/intoleran : ada

Allergen : telur

Reaksi terhadap allergen : gatal-gatal

Permasalahan sosial yang berhubungan dengan obat :

Alcohol : -

Coffein : -

Tembakau : -

 

Biaya pengobatan : Asuransi/ASKES/Jamkesmas/Umum

Follow up

Hari rawatan ke-2 (11 Maret 2010)

S :BAK sakit dan sedikit sejak 3 hari yang lalu, blass penuh, nafsu makan biasa

O : TD : 120/80 mmHg

Nadi : 66x/menit

Pernapasan : 24x/menit

Suhu : 36oC

A : Obs. ISK + retensi urin + oliguri

P : terapi lanjut

 

Hari rawatan ke-3 (12 Maret 2010)

S : sakit saat BAK (-), KU : Sedang

O : TD : 110/60 mmHg

Nadi : 69x/menit

Pernapasan : 24x/menit

Suhu : 36oC

P : terapi lanjut, tapi pasien pulang atas permintaan kelurga

 

Pemakaian Obat Bersamaan

No. Nama Obat Dosis Rute Indikasi Tanggal
10/3 11/3 12/3
1 KA-EN 1B (Na 38,5 mEq, Cl 38,5 mEq, glucose 37,5 mg) IVFD 26 gtt/i IV Menyalurkan atau mengganti cairan dan elektrolit IGD (21.15) 04.00

22.45

05.45
2 Cefixime (sefiksim 100 mg) Kapsul 2 x 1 PO Antibiotik untuk ISK   8

18

8


Nama Pasien        : Mira Sarmiati

No. MR                  : 01.11.61

Ruangan               : Anak kelas III

Farmasis                : Ayu Minang Abriani

 


KERTAS KERJA FARMASI

MASALAH YANG TERKAIT DENGAN OBAT

 

NO JENIS PERMASALAHAN ANALISA MASALAH PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN OBAT KOMENTAR/REKOMENDASI
1 Korelasi antara terapi obat dengan penyakit 1.       1. Adakah obat tanpa indikasi medis?

 

 

2.       2. Adakah pengobatan yang tidak dikenal?

3. Adakah kondisi klinis yang tidak diterapi?               dan apakah kondisi tersebut membutuhkan terapi obat?

1.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.    1. Tidak ada permasalahan. Tidak ada obat tanpa indikasi medis

2.    Cefixime : sebagai antibiotic untuk ISK

3.    2. Tidak ada pengobatan yang dikenal.

4.    3. Tidak ada kondisi klinis yang diterapi

2 Pemilihan obat yang sesuai 1.              1. Bagaimana pemilihan obat? Apakah sudah efektif dan merupakan obat terpilih pada kasus ini?

 

 

2.       2. Apakah pemilihan obat tersebut relative aman?

3.       3. Apakah terapi obat dapat ditoleransi oleh pasien?

1.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

1. Tidak ada permasalahan, pemilihan obat sudah efektif dan merupakan obat terpilih pada kasus ini.

Cefixime juga merupakan  antibiotik lini kedua untuk ISK, antibiotik  lini pertama untuk ISK adalah Trimetoprim-Sulfametoksazol.

2. Tidak ada permasalahan, pemakaian obat relatif aman

 

3. Tidak ada permasalahan, terapi obat dapat ditoleransi pasien, tidak ada reaksi hipersensitifitas sefiksim yang dialami pasien

3 Regimen dosis 1.        1. Apakah dosis, frekuensi dan cara pemberian sudah mempertimbangkan efektifitas,  keamanan,  dan kenyamanan serta sesuai dengan kondisi pasien?

2.        2. Apakah jadwal pemberian dosis bisa memaksimalkan efek terapi, kepatuhan, meminimalkan efek samping, interaksi obat dan regimen yang komplek?

3. Apakah lama terapi sesuai dengan indikasi?

 

1.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

3      1. Ada permasalahan, dosis untuk Mira tidak mencapai dosis lazim. Perhitungan dosis terlampir.

 

 

4      2. Tidak ada permasalahan.

5      Jadwal pemberian dosis bisa memaksimalkan efek terapi.

 

 

6      3. Lama terapi belum bisa dipantau karena pada hari kedua di RS pasien sudah pulang.

Lama terapi cefixime untuk ISK  3 hari, bisa diperpanjang sampai hari ke7. Bila infeksi masih terjadi  dapat diperpanjang 3 hari lagi, jadi total lama terapi antibiotik 10 hari. Bila lebih dari 10 hari  infeksi masih terjadi, antibiotik yang digunakan sudah resisten, dapat diganti dengan antibiotik lain.

4 Duplikasi terapi 1.       1. Apakah ada duplikasi terapi? 1.       1. Ada permasalahan: 1

2.       2. Tidak ada permasalahan

 

1.Tidak ada permasalahan.

Tidak ada duplikasi terapi, karena terapi obat  yang diberikan hanya satu.

5 Alergi obat atau intoleran 1.             1. Apakah pasien alergi atau intoleran terhadap salah satu obat (atau bahan kimia yang berhubungan dengan pengobatannya)?

2.             2. Apakah pasien telah tahu yang harus dilakukan jika terjadi alergi serius?

1.       1. Ada permasalahan: 1, 2,

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.    1, 2. Tidak ada permasalahan.

2.    Pasien tidak alergi terhadap sefiksim.

3.    Jika ada alergi, pemakaian obat dihentikan dan hubungi dokter untuk menentukan antibiotic yang akan digunakan.

6 Efek merugikan obat 1.             1. Apakah ada gejala/permasalahan medis yang diinduksi obat? 1.       1. Ada permasalahan: 1

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.Tidak ada permasalahan

Pasien tidak ada gejala medis yang diinduksi sefiksim yaitu reaksi ES gangguan saluran cerna seperti diare, abdominal pain, mual, dispepsia, perut kembung (flatulense)

7 Interaksi dan kontraindikasi 1.             1. Apakah ada interaksi obat dengan obat?Apakah signifikan secara klinik?

2.

3.             2. Apakah ada interaksi obat dengan makanan?Apakah bermakna secara klinis?

4.             3. Apakah ada interaksi obat dengan data laboratorium?Apakah bermakna secara  klinis?

5.             4. Apakah ada pemberian obat yang kontra indikasi dengan keadaan pasien?

1.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3,4

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.    1, 2, 3, 4.Tidak ada permasalahan

2.    Tidak ada interaksi obat dengan obat karena obat yang diberikan hanya satu

3.    Tidak ada interaksi obat dengan makanan. Sefiksim dapat digunakan bersama atau tanpa makanan,  tapi pemberian bersama makanan akan mengurangi efek samping terhadap saluran cerna

4.    Tidak interaksi obat dengan data laboratorium

Tidak ada pemberian obat yang kontraindikasi dengan keadaan pasien

8 Gagal memperoleh obat 1.             1. Apakah pasien gagal memperoleh obat karena kesalahan sistem atau masalah kepatuhan?

2.             2. Apakah masalah tersebut mempengaruhi hasil dari terapi?

3.             3. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan kondisi keuangan pasien?

1.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2, 3. Tidak ada permasalahan

Pasien memperoleh obat dengan baik.

 


Perhitungan dosis Cefixime untuk Mira umur 14 tahun BB 41 kg

Dosis sefiksim Anak > 50 kg atau > 12 tahun dan dewasa :  400 mg/hari dibagi setiap          12-24 jam (Pelayanan Informasi ObatDepKes)

Dosis sefiksim yang diberikan untuk Mira : 2x100mg = 200 mg/hari

Dosis yang diberikan untuk Mira kurang dari dosis lazim, jadi sebaiknya sefiksim yang diberikan untuk Mira : 2x200mg = 400 mg/hari

 

Dosis untuk Mira jika dihitung berdasarkan dosis /kgBB

Dosis sefiksim untuk Anak : 8 mg/kgBB/hari dibagi setiap 12-24 jam (Pelayanan Informasi Obat dan Handbook of Clinical Drug Data)

Dosis sefiksim untuk anak BB 41 kg : 8 mg/kgBB/hari x 41kg =  321 mg/hari dibagi dalam satu atau dua dosis

Dosis 1xpakai :  = 160,5 mg

Walaupun dihitung berdasarkan dosis per kgBB, dosis yang diberikan untuk Mira masih kurang untuk mencapai dosis lazim.

 

Konseling

Pertanyaan yang diajukan Pasien/Keluarga :

1.    Tidak ada

Jawaban/informasi yang diberikan :

1.    Tidak ada

Konseling yang diberikan :

1.    Banyak minum air putih

2.    Sefiksim merupakan antibiotik untuk ISK, sefiksim diberikan bersama makanan    (segera sesudah makan) untuk menghindari efek samping terhadap saluran cerna, pemakaiannya harus setiap 12 jam, jadi kalau diberikan jam 8 pagi pemberian obat selanjutnya jam 8 malam

Lembar Rencana Asuhan Kefarmasian

Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Tujuan Farmakoterapi Terapi Terpilih Parameter Monitoring Nilai yang Diinginkan
Pengobatan ISK Menghilangkan nyeri saat BAK Cefixime Nyeri saat BAK Tidak ada nyeri saat BAK

Lembar Monitoring

Parameter monitoring Tanggal
11/3 12/3
Nyeri saat BAK Ada nyeri saat BAK Tidak ada nyeri saat BAK

Informasi obat :

1.    Infus KA-EN 1B (MIMS Edisi 8 2008/2009)

Komposisi : Per 1000 mL Na 38,5 mEq Cl 38,5 mEq, glucose 37,5 g

Indikasi : menyalurkan atau mengganti cairan dan lektrolit pada kondisi dehidrasi pada pasien kekurangan karbohidrat

2.    Cefixime (Pelayanan Informasi Obat DepKes)

Indikasi : Pengobatan infeksi pada saluran urin, otitis media, infeksi saluran nafas

Dosis : Anak > 50 kg atau > 12 tahun dan dewasa :  400 mg/hari dibagi setiap 12-24 jam

Farmakologi :

Absorbsi :  40-50%; Distribusi : Didistribusikan secara luas di dalam tubuh dan mencapai efek pada konsentrasi terapi dalam jaringan dan cairan tubuh;  Waktu paruh eliminasi : pada fungsi ginjal normal : 3-4 jam; pada kerusakan ginjal : diatas sampai lebih dari 11,5 jam; Waktu untuk mencapai konsentrasi puncak pada serum : 2-6 jam, lebih lama dengan adanya makanan; Ekskresi : Urin (50% diabsorbsi dari dosis sebagai obat aktif); feses (10%).

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap sefiksim, komponen lain dalam sediaan dan  sefalosporin lain

Efek Samping : Diare (16%); 2-10% : Abdominal pain, mual, dispepsia, perut kembung(flatulense)

Interaksi Obat:

-Dengan Obat Lain : Menigkatkan efek/toksisitas :

• Amonoglikosida dan furosemida kemungkinan terjadi nefrotoksisitas karena aditif

• Probenesid dapat meningkatkan konsentrasi sefiksim

• Sefiksim meningkatkan kadar karbamazepin

• Sefiksim dapat meningkatkan waktu pembekuan darah jika diberikan bersama warfarin.

-Dengan makanan :

Dapat diberikan bersamaan atau tanpa makanan, pemberian bersamaan makanan akan mengurangi rasa tertekan pada perut.

Mekanisme Kerja : Menghambat sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri sehingga menghambat biosintesis dinding sel, bakteri akan mengalami lisis.

 

 

Data Umum

No. MR           : 00.09.60                                Ruangan          : Anak Kelas III

Nama Pasien   : Irvan Hidayat                        Dokter             : dr. Yelli Sp.A

Alamat            : Koto Tuo IV Koto                Farmasis          : Ayu Minang Abriani

Jenis Kelamin  : Laki-laki                                Agama             : Islam

Umur               :  8 tahun                                 Pekerjaan         : -

Tinggi              : ± 120 cm                               Berat               : 13 kg

 

Anamnesa

  • Sakit saat buang air kecil, buang air kecil ± 2 tetes dari pagi sekitar jam tiga        (15 Maret 2010)
  • Mual
  • Nafsu makan menurun
  • Nyeri suprasimfesis (+)

Diagnosa kerja : suspect ISK + Obs.Oliguri

Terapi dokter :

  • Periksa urin, darah, ureum, kreatinin
  • Kontrol jumlah urin
  • IVFD D5%: NaCl (375:125) 12 gtt/menit
  • Kotrimoksazol 2×1¼ cth
  • Kompres buli-buli panas dingin
  • MLDSC (makanan lunak diit saluran cerna) 1200 kkal
  • minum

Sejarah pengobatan/Pembedahan yang telah dialami

  • Fisioterapi
  • Neurotam® (Piracetam), Lycalvit® untuk Cerebral Palsy
  • Antasid sirup untuk gastritis
  • Amoksisilin untuk ISPA

Riwayat Penyakit Sebelumnya

  • Palsi serebral sejak lahir
  • Gastritis
  • ISPA

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang pernah menderita ISK

Data Hasil Pemeriksaan Fisik dan Data Penunjang Lain

Kulit                                        : normal

Kelenjar getah bening             : normal

Kepala                                     : normal

Mata                                        : normal

Telinga                                    : normal

Mulut                                      : normal

Leher                                       : normal

Dada                                       : dalam batas normal

Paru-paru                                 : dalam batas normal

Jantung                                    : dalam batas normal

Perut                                        : nyeri suprasimfesis +1

Punggung                                : normal

Alat Kelamin                           : normal

Anus dan rectum                     : normal

Anggota gerak                                    : normal

 

Ubun-ubun : datar

Pendengaran : normal

Leher : normal

Thyroid : normal

Suprasternal : normal

KV : normal

Abdomen : Bising Usus (+)

Genita urinaria : normal

Aktivitas di rumah (makan, minum, personal hygiene, BAB, BAK) : dibantu

 

Volume urin

Tanggal Jam Jumlah
15/3 14.00 Banyak (tidak diukur)
16/3 23.35 200 cc
17/3 14.00 350 cc
18/3 17.00 150 cc
19/3    

 

Data Organ Vital

Tanggal Tek. Darah (mmHg) Nadi (x/menit) Pernafasan (x/menit) Suhu (oC)
15/3  Siang - 100 24 37
Malam   96 32 38
16/3  Pagi - 110 18 38,7
Siang - 84 24 38,4
Malam - 112 48 38,8
17/3  Pagi 90/70 112 30 38,5
Siang - 108 60 36,5
Malam - 100 28 36,5
18/3  Pagi - 84 20 36,5
Siang - 120 40 36,3
Malam - 80 24 36
19/3  Pagi - 69 22 36,2
Siang - 68 20 36
Malam - 80 24 36,2
20/3  Pagi        
Siang        
Malam        

 

Data Laboratorium

Tanggal 15 Maret 2010

Urin :

Leukosit 0-1

Eritrosit 0-1

Epitel +1

Kristal amorf +1

Darah :

Sel darah putih 11,2×103/mm3 (Normal 4-10 x103/mm3)

Sel darah merah 4,95×106/mm3 (Normal 3,8-5,8×106/mm3)

Hemogloblin 13,1 g/dL                         (Normal 11-16,5 g/dL)

Hematokrit 38 %                                   (Normal 35-50%)

Platelet/Trombosit 405×103/mm3 (Normal 150-450)

Ureum 28 mg%                                               (Normal 20-40 mg%)

Kreatinin 0,7 mg%                                          (Normal 0,6-1,1 mg%)

 

Tanggal 17 Maret 2010

Urin :

Leukosit 2-4

Eritrosit 1-2

Epitel +1

Kristal amorf +1

 

 

Tanggal 19 Maret 2010

Urin :

Leukosit 0-1

Eritrosit 1-2

Kristal Ca oxalat +1

Faeces :

Konsistensi : keras

Warna : kuning kecoklatan

Darah : (+) positif

Mikroskopis amuba : (-) negatif

Alergi/intoleran : tidak ada

Permasalahan sosial yang berhubungan dengan obat :

Alcohol : -

Coffein : -

Tembakau : -

Biaya pengobatan : Asuransi/ASKES/Jamkesmas/Umum

 

Follow-up

Hari rawatan ke-1 (15/3 2010 malam)

S : sakit sekali bila BAK, demam

O : Suhu : 38oC           Nadi : 96x/menit         Pernafasan : 32x/menit

P : Ottopan® (parasetamol) 3x 1cth

 

Hari rawatan ke-2 (16/3 2010)

S : demam (+), kejang (+)

O : Suhu : 38,7oC        Nadi : 110x/menit       Pernafasan : 18x/menit

P : Ottopan® (parasetamol) 4×1½ cth

Luminal 2x25mg

 

Hari rawatan ke-3 (17/3 2010)

S : sakit sekali bila BAK, jumlah urin mulai banyak, mual (-), demam (+), nyeri suprasinfesis (+), KU sedang

O : Suhu : 38,5oC        Nadi : 112x/menit       Pernafasan : 30x/menit

P : terapi lanjut, periksa urin

Hari rawatan ke-4 (18/3 2010)

S : sakit saat BAK berkurang; BAB (-), keras, dan sakit bila BAB; demam (-); KU sedang

O : Suhu : 36,5oC        Nadi : 84x/menit         Pernafasan : 20x/menit

P : Dulcolax supp 1x5mg, terapi lanjut

Hari rawatan ke-5 (19/3 2010)

S : sakit saat BAK (–), BAB keras dan sakit saat BAB, demam (-),

O : Suhu : 36,2oC        Nadi : 96x/menit         Pernafasan : 40x/menit

P : Dulcolax supp 1x5mg, terapi lanjut, periksa urin dan feses

Hari rawatan ke-6 (20/3 2010)

S : BAK sakit (-), BAB sakit (-), demam (-)

O : Suhu :    oC            Nadi :    x/menit          Pernafasan :    x/menit

P : terapi lanjut

 

Pemakaian Obat Bersamaan

No. Nama Obat Dosis Rute Indikasi Tanggal
15/3 16/3 17/3 18/3 19/3 20/3
1 IVFD Dextrose 5% : NaCl (375 : 125) 12 gtt/i IV Rehidrasi, penambah kalori secara parenteral 13 01

 

00

12

     
2 Cotrimoksazol Suspensi (Tiap 5 mL: Trimetoprim 40 mg, Kotrimoksazol 200 mg) 2 x 1¼ cth PO Antibiotik untuk ISK tak terkomplikasi  

18

8

18

8

18

8

18

8

18

8   18
3 Ottopan® sirup                   ( Parasetamol 120 mg/5mL) 4 x 1½ cth PO Antipiretik, analgetik  

 

 

22

8

12

18

22

8

12

18

22

8    
4 Luminal Pulvis 25 mg 2 x 1

bungkus

PO antikonvulsan    

18

8

18

8

18

8   18 8   18
5 Dulcolax® suppos

(Bisacodil 5 mg)

1 x 1 suppos Anal laksatif       10 12  

 

Nama Pasien        : Irvan Hidayat

No. MR                  : 00.09.60

Ruangan               : Anak kelas III

Farmasis                : Ayu Minang Abriani

 

KERTAS KERJA FARMASI

MASALAH YANG TERKAIT DENGAN OBAT

 

NO JENIS PERMASALAHAN ANALISA MASALAH PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN OBAT KOMENTAR/REKOMENDASI
1 Korelasi antara terapi obat dengan penyakit 3.       1. Adakah obat tanpa indikasi medis?

4.       2. Adakah pengobatan yang tidak dikenal?

 

 

 

 

5.       3. Adakah kondisi klinis yang tidak diterapi?  dan apakah kondisi tersebut membutuhkan terapi obat?

 

3.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2. Tidak ada permasalahan

Cotrimoksazol sebagai antibiotic untuk ISK

Ottopan® (parasetamol) sebagai antipiretik

Luminal sebagai maintenance antikonvulsan, karena cerebral palsy biasanya disertai kejang.

Dulcolax® supp (Bisacodil) sebagai laksatif stimulan

3.     Tidak ada permasalahan

Dalam  anamnesa pasien ada mual. Mual dapat hilang dengan sendirinya, tanpa perlu terapi obat.

2 Pemilihan obat yang sesuai 4.        1. Bagaimana pemilihan obat? Apakah sudah efektif dan merupakan obat terpilih pada kasus ini?

5.       2. Apakah pemilihan obat tersebut relative aman?

6.       3. Apakah terapi obat dapat ditoleransi oleh pasien?

3.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2, 3. Tidak ada permasalahan

Cotrimoksazol merupakan terapi lini pertama untuk ISK.

Parasetamol efektif sebagai penurun demam

Luminal efektif untuk pengobatan maintenance kejang pada anak

Pemilihan obat relatif aman dan dapat ditoleransi oleh pasien, tidak ada reaksi alegi setelah diberikan Cotrimoksazol, parasetamol, luminal, dan Dulcolax® supp

3 Regimen dosis 3.       1. Apakah dosis, frekwensi dan cara pemberian sudah mempertimbangkan efektifitas keamanan dan kenyamanan serta sesuai dengan kondisi pasien?

4.        2. Apakah jadwal pemberian dosis bisa memaksimalkan efek terapi, kepatuhan, meminimalkan efek samping, interaksi obat dan regimen yang komplek?

 

 

5.       3. Apakah lama terapi sesuai dengan indikasi?

3.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1.             1,2. Tidak ada permasalahan

Dosis, frekuensi, dan cara pemberian sudah efektif (perhitungan dosis Cotrimoksazol, Parasetamol, Luminal dilampirkan).

Dosis Dulcolax®  supp : Anak usia 2-11 tahun : 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal.

 

 

 

 

 

3. Ada permasalahan.

Lama terapi Cotrimoksazol tidak bisa dipantau , karena farmasis pindah ruangan. Lama terapi Cotrimoksazol untuk ISK 3 hari, bisa diperpanjang  sampai hari ke-7. Bila masih infeksi, bisa diperpanjang 3 hari lagi. Jadi lama terapi 10 hari. Bila lebih dari 10 hari  infeksi masih terjadi, antibiotik yang digunakan sudah resisten, dapat diganti dengan antibiotiklain.

4 Duplikasi terapi 2.       1. Apakah ada duplikasi terapi? 3.       1. Ada permasalahan: 1

4.       2. Tidak ada permasalahan

 

1.Tidak ada permasalahan

Tidak ada duplikasi  terapi dari trimetoprim, sulfametoksazol, parasetamol, dan luminal

5 Alergi obat atau intoleran 3.             1. Apakah pasien alergi atau intoleran terhadap salah satu obat (atau bahan kimia yang berhubungan dengan pengobatannya)?

4.             2. Apakah pasien telah tahu yang harus dilakukan jika terjadi alergi serius?

3.       1. Ada permasalahan: 1, 2,

4.       2. Tidak ada permasalahan

4.    1, 2. Tidak ada permasalahan

5.    Jika ada alergi, pemakaian obat dihentikan, dan hubungi dokter untuk menentukan obat yang akan digunakan .

6 Efek merugikan obat 2.             1. Apakah ada gejala/permasalahan medis yang diinduksi obat? 3.       1. Ada permasalahan: 1

4.       2. Tidak ada permasalahan

1.     Tidak ada permasalahan

Pasien tidak mengalami gejala/permasalahan medis yang diinduksi oleh cotrimoksazol, parasetamol, luminal, dan Dulcolax® supp

Cotrimoksazol : Reaksi efek samping yang paling banyak adalah gangguan pencernaan (mual, muntah, anorexia), reaksi dermatologi (rash atau urticaria).

Parasetamol : Efek samping dalam dosis terapi jarang; pada dosis besar dan penggunaan jangka panjang menyebabkan keusakan hati/hepatotoksik.

Luminal : Mengantuk, kelelahan, depresi mental, ataksia dan alergi kulit, dan hiperkinesia pada anak; anemia megaloblastik(dapat diterapi dengan asam folat)

Dulcolax® supp : Efek Samping pemberian suppositoria bisakodil rektal dapat menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada mukosa rektum serta proktitis ringan

 

7 Interaksi dan kontraindikasi 6.             1. Apakah ada interaksi obat dengan obat?Apakah signifikan secara klinik?

7.

8.             2. Apakah ada interaksi obat dengan makanan?Apakah bermakna secara klinis?

9.             3. Apakah ada interaksi obat dengan data laboratorium?Apakah bermakna secara  klinis?

10.          4. Apakah ada pemberian obat yang kontra indikasi dengan keadaan pasien?

3.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3,4

4.       2. Tidak ada permasalahan

5.    1, 2, 3, 4. Tidak ada permasalahan

6.    Tidak ada interaksi antara cotrimoksazol, parasetamol, luminal

7.    Tidak ada interkasi cotrimoksazol, parasetamol dengan makanan, jadi dapat diberikan sesudah makan. Luminal berinteraksi dengan makanan yang mengandung vit.D dan Ca, luminal menyebabkan penurunan absorpsi vit.D dan Ca (pelayanan informasi obat). Jadi pemaikaian luminal bisa 1 jam sebelum atau 2 jam setelah pemberian makanan yang mengandung Vit. D dan Ca.

8 Gagal memperoleh obat 4.             1. Apakah pasien gagal memperoleh obat karena kesalahan sistem atau masalah kepatuhan?

5.             2. Apakah masalah tersebut mempengaruhi hasil dari terapi?

6.             3. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan kondisi keuangan pasien?

3.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2, 3. Tidak ada permasalahan

Pasien memperoleh obat dengan baik.

 


Konseling

Pertanyaan yang diajukan Pasien/Keluarga :

1.      Apakah boleh kalau Irvan makan telur tiap hari, kalau tidak pakai telur susah makannya?

Jawaban/informasi yang diberikan :

  1. Boleh, telur mengandung protein, tapi sebaiknya sayur dan buah juga dimakan.

Konseling yang diberikan :

1.    Banyak minum air putih.

2.    Cotrimoksazol suspensi merupakan antibiotik untuk ISK, diberikan dua kali sehari, satu kali pakai 1¼ sendok takar  sesudah makan. Pemakaian harus setiap 12 jam, jadi kalau diminum jam 8 pagi waktu pemberian berikutnya jam 8 malam. Jangan lupa dikocok dulu sebelum dipakai.

3.    Ottopan® (Parasetamol) merupakan obat demam atau penurun panas, diberikan empat kali sehari, satu kali pakai 1½ sendok takar. Pemakaian obat jam 8.00, 13.00, 18.00, 22.00 bersama atau tanpa makanan. Parasetamol diminum bila demam saja, kalau tidak demam tidak usah diberikan.

4.    Puyer merupakan obat kejang, diberikan pagi jam 8.00 dan sore jam 18.00

5.    Pemakaian puyer jangan digabung dengan sirup, karena kalau digabung dosis obat yang sirup jadi berkurang. Sebaiknya puyer dipisahkan pemakaianya dengan sirup. Puyer dituang ke sendok, lalu dilarutkan dengan air minum secukupnya.

Lembar Rencana Asuhan Kefarmasian

Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Tujuan Farmakoterapi Terapi Terpilih Parameter Monitoring Nilai yang Diinginkan
Pengobatan ISK Menghilangkan nyeri suprasimfesis Trimetoprim-Sulfametoksazol Nyeri suprasimfesis Tidak ada nyeri suprasiinfesis
Pengobatan demam Menghilangkan demam Parasetamol Suhu tubuh Suhu tubuh normal              (36-37oC)
Pengobatan kejang Menghilangkan kejang Luminal/Phenobarbital Kejang Tidak ada kejang
Pengobatan konstipasi Menghilangkan nyeri saat BAB Dulcolax suppositoria (Bisacodil) Nyeri saat BAB Tidak ada nyeri saat BAB

Lembar Monitoring

Parameter monitoring Tanggal
15/3 16/3 17/3 18/3 19/3 20/3
Nyeri suprasimfesis ada ada ada berkurang tidak ada tidak ada
Suhu tubuh 38 (demam) 38,7 (demam) 38,5 (demam) 36,5 (tidak demam) 36,2 (tidak demam)  
Kejang   ada ada ada ada ada
Nyeri saat BAB       ada ada tidak ada

 

Informasi Obat :

1.    Cotrimoksazol suspensi (tiap 5 mL : Trimetoprim 40 mg-Sulfametoksazol 200 mg) (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Untuk pengobatan infeksi saluran urin yang disebabkan E.coli, Klebsella dan Enterobacter sp, M.morganii, P.mirabilis dan P.vulgaris; otitis media akut pada anak.

Dosis : untuk ISK : oral: 6-12 mg TMP/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 12 jam.

Farmakologi :

Absorbsi: oral : hampir sempurna, 90-100%.

T½ eliminasi: Slfametoksazol : 9 jam.

Trimetoprim: 6-17 jam, dan mengalami perpanjangan pada pasien gagal ginjal.

T. max, serum: antara 1-4 jam.

Ekskresi obat: dieksresi melalui urin dalam bentuk metabolit dan dalam bentuk utuh.

Kontra Indikasi : Hipersensitif pada obat golongan sulfa, trimethoprim atau komponen lain dalam obat; profiria; anemia megaloblastik karena kekurangan asam folat; bayi dengan usia <2 bulan; adanya tanda kerusakan pada hepar pasien; gagal ginjal parah; kehamilan.

Efek Samping : Reaksi efek samping yang paling banyak adalah gangguan pencernaan (mual, muntah, anorexia), reaksi dermatologi (rash atau urticaria).

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain :

Meningkatkan efek toksik: Meningkatkan efek toksis dari metotreksat. Kemungkinan meningkatkan kadar obat amiodaron, flueksetin, glimepirid, glipizid, phenytoin, warfarin. Peningkatan efek hiperkalemia pada penggunaan bersamaan obat ACE inhibitor, reseptor antagonis angiotensin atau diuresis hemat kalium. Peningkatan efek neprotosis dengan siklosporin.

Menurunkan efek obat:

Kemungkinan kadar obat kotrimoxazole akan diturunkan oleh: karbamazepin, fenobarbital, penitoin, rifampisin, rifapentine, secobarbital.

-Dengan makanan : tidak ada.

Parameter monitoring : Hati (SGPT,SGOT), Ginjal (ClCr), Electrolit (Kalium)

Informasi Pasien :

Untuk menghindari timbulnya resistensi, dan ketidak berhasilan terapi maka sebaiknya obat digunakan dalam dosis dan rentang waktu yang telah ditetapkan.

Amati jika ada timbul gejala ESO obat, seperti mual, diare atau respon hipersensitivitas.

Mekanisme Kerja : Sulfametoxazol menghambat sintesis asam folat dan pertumbuhan bakteri dengan menghambat susunan asam dihidrofolat dari asam para-aminobenzen; Trimethoprime menghambat terjadinya reduktasi asam dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat yang secara tidak langsung mengakibatkan penghambatan enzim pada siklus pembentukan asam folat.

 

2.    Ottopan® sirup (Parasetamol 120mg/5mL) (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Demam/antipiretik, nyeri ringan sampai sedang

Dosis : 10-15 mg/kgBB/dosis

Farmakologi : Memiliki aktifitas sebagai analgetik dan antipiretik

Kontra Indikasi : Hipersensitivitas

Efek Samping : Efek samping dalam dosis terapi jarang; kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut pernah dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain :

Alkohol, antikonvulsan, isoniazid : Meningkatkan resiko hepatotoksis;

Antikoagulan oral : Dapat meningkatkan efek warfarin;

Fenotiazin : Kemungkinan terjadi hipotermia parah

-Dengan makanan : tidak ada

Parameter monitoring : Suhu tubuh. Fungsi hati

Informasi Pasien : Jika nyeri atau demam sudah lebih dari 3 hari, hubungi dokter

Mekanisme Kerja : Bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat.

 

3.    Luminal (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Sebagai antikonvulsi, fenobarbital digunakan dalam penanganan seizure tonik-klonik (grand mal) dan seizure parsial. Fenobarbital dapat digunakan dalam pengobatan awal, baik untuk bayi maupun anak-anak. (AHFS 2002)

Dosis luminal : 4-7 mg/kgBB/hari

Farmakologi : Fenobarbital adalah antikonvulsan turunan barbiturat yang efektif dalam mengatasi epilepsi pada dosis subhipnotis.

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap barbiturat atau komponen sediaan, gangguan hati yang jelas, dispnea, obstruksi saluran nafas, porfiria, hamil.

Efek Samping : Mengantuk, kelelahan, depresi mental, ataksia dan alergi kulit, paradoxical excitement restlessness, hiperkinesia pada anak; anemia megaloblastik (dapat diterapi dengan asam folat)

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain :

Alkohol : Meningkatkan efek sedatif.

Antiaritmia  : Metabolisme disopiramid dan kinidin ditingkatkan (kadar plasma diturunkan)

Antibakteri : Metabolisme kloramfenikol, doksisiklin, dan metronidazol dipercepat (efek berkurang).

Antikoagulan : metabolisme nikumalon dan warfarin dipercepat (mengurangi efek antikoagulan).

Antidepresan : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang menurun); metabolisme mianserin dan trisiklik dipercepat (menurunkan kadar plasma).

Antiepileptika : pemberian bersama dengan fenobarbital dapat meningkatkan toksisitas tanpa disertai peningkatan efek antiepileptik; disamping itu interaksi dapat menyulitkan pemantauan terhadap pengobatan; interaksi termasuk peningkatan efek, peningkatan sedasi, dan penurunan kadar plasma.

Antijamur : fenobarbital mempercepat metabolisme griseofulvin (mengurangi efek).

Antagonis-Kalsium : efek diltiazem, felodipin, isradipin, verapamil,dan mungkin nikardipin dan nifedipin dikurangi.

Glikosida jantung : hanya metabolisme digitoksin yang dipercepat (mengurangi efek).

Kortikosteroida : metabolisme kortikosteroid dipercepat (menurunkan efek).

Siklosporin : metabolism siklosporin dipercepat (mengurangi efek).

Estrogen dan Progestogen : metabolisme gestrinon, tibolon, dan kontrasepsi oral dipercepat (menurunkan efek kontraseptif).

Teofilin : metabolisme teofilin dipercepat (mengurangi efek).

Vitamin : kebutuhan akan vitamin D mungkin meningkat

-Dengan makanan : Dapat menyebabkan penurunan vitamin D dan kalsium.

Parameter monitoring : Konsentrasi serum fenobarbital, status/ kondisi mental, aktivitas seizure

Mekanisme Kerja : Barbiturat menekan korteks sensor, menurunkan aktivitas motorik, mempengaruhi fungsi serebral dan menyebabkan kantuk, efek sedasi dan hipnotik. Pada dosis tinggi barbiturat memiliki sifat antikonvulsan, dan menyebabkan depresi saluran nafas yang dipengaruhi dosis.

 

4.    Dulcolax® suppositoria (Bisacodil 5 mg) (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Laksatif stimulan.

Dosis : Rektal : Anak usia 2-11 tahun : 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal. Anak usia<2 tahun:5 mg sebagai dosis tunggal. Dewasa dan anak>=12 tahun:10 mg sehari sebagai dosis tunggal.

Farmakologi : Bisakodil merupakan laksatif stimulan. Absorbsi bisakodil minimal setelah pemberian oral atau rektal. Obat dimetabolisme di hati dan diekskresi melalui urin dan/atau didistribusikan ke dalam ASI. Pemberian rektal menyebabkan pengosongan kolon dalam waktu 15 menit sampai 1 jam.

Kontra Indikasi : Pasien dengan sakit perut akut, mual, muntah, dan gejala-gejala lain apendisitis atau sakit perut yang tak terdiagnosa; pasien dengan obstruksi usus.

Efek Samping : Pemberian suppositoria bisakodil rektal dapat menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada mukosa rektum serta proktitis ringan

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain : Efektivitas bisakodil berkurang bila diberikan bersama-sama dengan antasida, simetidin, famotidin, ranitidin.

-Dengan makanan : tidak ada

Parameter monitoring : Berkurangnya rasa tidak enak dan sakit pada abdomen, buang air besar (dalam 15 sampai 60 menit), evaluasi kembali bila terdapat perdarahan rektum atau tidak ada buang air besar setelah pemberian.

Informasi Pasien : Suppositoria bisakodil rektal dapat diberikan pada saat buang air besar diinginkan. Penggunaan lebih dari 7 hari tidak direkomendasikan. Sebagai laksatif oral, bisakodil sebaiknya diberikan pada malam hari sebelum aktivitas buang air besar yang dikehendaki di pagi hari berikutnya. Laksatif difenilmetan tidak seharusnya diberikan melebihi dosis yang direkomendasikan.

Mekanisme Kerja : Laksatif stimulan menginduksi defekasi dengan merangsang aktivitas peristaltic usus yang bersifat mendorong (propulsif) melalui iritasi lokal mukosa atau kerja yang lebih selektif pada plexus saraf intramural dari otot halus usus sehingga meningkatkan motilitas. Akan tetapi, studi terbaru menunjukkan bahwa obat-obat ini mengubah absorpsi cairan dan elektrolit, menghasilkan akumulasi cairan usus dan pengeluaran feses.

 

 

 

 

Perhitungan dosis untuk Irvan

1.    Perhitungan Dosis Trimetoprim dan Sulfametoksazol untuk Irvan

Untuk ISK

Dosis trimetoprim : 6-12 mg/kgBB dalam dosis terbagi tiap 6 atau 12 jam (Pelayanan Informasi Obat DepKes) atau 8 mg/kg BB dalam dua dosis tiap 12 jam selama 10 hari (Obat-obat Penting).

Dosis sulfametoksazol : 40 mg/kg BB dalam dua dosis terbagi tiap 12 jam selama 10 hari (Obat-obat Penting).

Tiap 5 mL suspensi Cotrimoksazol mengandung :

Trimetoprim          40 mg

Sulfametoksazol  200 mg

Berat Badan Irfan Hidayat 13 kg.

Dosis Cotrimoksazol yang diberikan untuk Irfan 2 x 1¼ sendok takar.

Trimetoprim untuk BB 13 kg : 8 mg/kg BB x 13 kgBB = 104 mg dalam dua dosis

Trimetoprim untuk BB 13 kg 1 x pakai =  = 52 mg

Trimetoprim : 1 sendok takar = 40 mg + ¼ sendok takar = 10 mg

40 mg + 10 mg = 50 mg ≈ 52 mg

Sulfametoksazol untuk BB 13 kg: 40 mg/kg BB x 13 kgBB =520 mg dalam dua dosis.

Sulfametoksazol untuk BB 13 kg 1 x pakai =  = 260 mg

Sulfametoksazol : 1 sendok takar = 200 mg + ¼ sendok takar = 50 mg

200+ 50 mg = 250 mg ≈ 260 mg

Dosis Cotrimoksazol untuk Irvan mendekati dosis terapi

2.    Perhitungan Dosis Parasetamol untuk Irvan

Dosis parasetamol : 10-15mg/kgBB/dosis

Tiap 5 mL sirup Ottopan® mengandung :

Parasetamol  : 120 mg

Dosis Parasetamol yang diberikan untuk Irfan 4 x 1½ sendok takar.

Dosis Parasetamol untuk BB 13 kg : 10-15 mg/kgBB x 13 kgBB = 130-195 mg/dosis

Parasetamol: 1 sendok takar =  120 mg + ½ sendok takar = 60 mg

120 mg + 60 mg = 180 mg (130-195)

Dosis parasetamol untuk Irvan dalam range dosis terapi

 

3.    Perhitungan dosis luminal untuk irvan

Dosis luminal : 4-7 mg/kgBB/hari (kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid 1)

Dosis luminal yang diberikan untuk Irvan : 2×25 mg

Dosis luminal untuk BB 13 kg : 4-7 mg/kgBB x 13 kg = 52-91 mg

Dosis luminal untuk BB 13 kg untuk 1xpakai :  = 26-45,5 mg (Luminal untuk Irvan 1xpakai 25 mg)

Dosis luminal untuk Irvan kurang 1 mg dari range, tidak berpengaruh terhadap hasil terapi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TUGAS PKP DI RUANG ANAK RSSN BUKITTINGGI

Tugas Ruang Anak dari dr. Yelli Sp.A

Nama : Ayu Minang Abriani

No.BP : 0921015054

1.    Dosis Trimetoprim dan Sulfametoksazol ?

Untuk ISK

Dosis trimetoprim : 6-12 mg/kgBB dalam dosis terbagi tiap 6 atau 12 jam (Pelayanan Informasi Obat DepKes) atau 8 mg/kg BB dalam dua dosis tiap 12 jam selama 10 hari (Obat-obat Penting).

Dosis sulfametoksazol : 40 mg/kg BB dalam dua dosis terbagi tiap 12 jam selama 10 hari (Obat-obat Penting).

Tiap 5 mL suspensi Cotrimoksazol mengandung :

Trimetoprim          40 mg

Sulfametoksazol  200 mg

Berat Badan Irfan Hidayat 13 kg.

Dosis Cotrimoksazol yang diberikan untuk Irfan 2 x 1¼ sendok takar.

Trimetoprim : 8 mg/kg BB x 13 kgBB = 104 mg dalam dua dosis (dua kali pakai).

1 x pakai =  = 52 mg

Trimetoprim : 1 sendok takar = 40 mg + ¼ sendok takar = 10 mg

40 mg + 10 mg = 50 mg ≈ 52 mg

Sulfametoksazol : 40 mg/kg BB x 13 kgBB =520 mg dalam dua dosis.

1 x pakai =  = 260 mg

Sulfametoksazol : 1 sendok takar = 200 mg + ¼ sendok takar = 50 mg

200+ 50 mg = 250 mg ≈ 260 mg

2. Kejang demam sampai usia berapa ?

Kejang demam terjadi antara usia 3 bulan sampai 5 tahun (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ketiga tahun 2000)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DIALOG IBLIS LAKNATULLOH DENGAN NABI MUHAMMAD SAW

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : ” Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah.

Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : ” Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku “.

Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :” Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?”.

Para sahabat menjawab , ” Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Rasulullah berkata : ” Dia adalah Iblis yang terkutuk ? semoga Allah senantiasa melaknatnya”.

Umar bin Khattab r.a. berkata :” Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”.

Nabi SAW berkata pelan :” Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan [hari kiyamat]?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian! “.

Ibnu Abbas berkata : ” Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya [masyquqatani] memanjang [terbelah ke-atas, tidak kesamping], kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau [tsur].

Dia berkata, ” Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa’atal-muslimin [salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin]“.

Nabi SAW menjawab :” Assamu lillah ya la’iin [Keselamatan hanya milik Allah SWT, wahai makhluq yang terlaknat. Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis".

Iblis berkata :" Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa [diperintah].”

Nabi SAW berkata :” Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”.

Iblis berkata,” Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu’. Allah SWT bersabda,” Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah.

Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”.

Rasulullah kemudian mulai bertanya :

” Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”.

Iblis menjawab :” Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.
Rasulullah SAW :” Siapa lagi yang kamu benci?”.
Iblis :” Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”.
Rasulullah :” Lalu siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang Alim dan Wara [menjaga diri dari syubhat] yang saya tahu, lagi penyabar”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran – [menjaga wudhu]“.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang miskin [fakir] yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “.

Rasulullah :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?”.

Iblis :” Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar “.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang kaya yang bersyukur “.
Rasulullah bertanya :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?”.
Iblis :” Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”.

Rassulullah :”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?”.
Iblis :”Aku merasa panas dan gemetar”.
Rasulullah :”Kenapa, wahai terlaknat?”.
Iblis :” Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”.

Rassulullah :”Jika mereka shaum ?”.

Iblis : ” Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”.

Rasulullah :” Jika mereka menunaikan haji ?”.
Iblis :” Saya menjadi gila”.
Rasulullah :”Jika mereka membaca Al Qur’an ?’.
Iblis :’ Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”.
Rasulullah :” Jika mereka berzakat ?”.
Iblis :” Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua”.
Rasulullah :” Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”.
Iblis :” Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”.

Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”.
Rasulullah :” Apa pendapatmu tentang Umar ?”.
Iblis :” Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Utsman ?”.
Iblis :” Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib ?”.

Iblis :” Andai saja aku dapat selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya [menukar darinya kepala dengan kepala], dan kemudian ia meninggalkanku dan aku meninggalkannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu”.

Rasulullah :” Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat”.

Iblis yang terlaknat berkata kepada Muhammad :” Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]. Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat. Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan. Akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf. Yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang
mukhlis [ikhlas]“.

Rasulullah :”Siapa yang mukhlis itu menurutmu ?”.
Iblis dengan panjang-lebar menjawab :

” Apakah engkau tidak tahu, wahai Muhammad. Barangsiapa cinta dirham dan dinar, dia tidak termasuk orang ikhlas untuk Allah. Jika aku melihat orang tidak suka dirham dan dinar, tidak suka puji dan pujaan, aku tahu bahwa dia itu ikhlas karena Allah, maka aku tinggalkan ia. Sesungguhnya hamba yang mencintai harta, pujian dan hatinya tergantung pada nafsu [syahwat] dunia, dia lebih rakus dari orang yang saya jelaskan kepadamu. Tak tahukah engkau, bahwa cinta harta termasuk salah satu dosa besar.

Wahai Muhammad, tak tahukan engkau bahwa cinta kedudukan [riyasah] termasuk dosa besar. Dan bahwa sombong, juga termasuk dosa besar.

Wahai Muhammad, tidak tahukan engkau, bahwa aku punya 70,000 anak. Setiap anak dari mereka, punya 70,000 syaithan. Diantara mereka telah aku tugaskan untuk menggoda golongan ulama, dan sebagian lagi menggoda anak muda, sebagian lagi menggoda orang-orang tua, dan sebagian lagi menggoda orang-orang lemah. Adapun anak-anak muda, tidak ada perbedaan di antara kami dan mereka, sementara anak-anak kecilnya, mereka bermain apa saja yang mereka kehendaki bersamanya.

Sebagian lagi telah aku tugaskan untuk menggoda orang-orang yang rajin beribadah, sebagian lagi untuk kaum yang menjauhi dunia [zuhud]. Setan masuk ke dalam dan keluar dari diri mereka, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, dari satu pintu ke pintu yang lain, sampai mereka mempengaruhi manusia dengan satu sebab dari sebab-sebab yang banyak. Lalu syaithan mengambil keikhlasan dari mereka. Menjadikan mereka menyembah Allah tanpa rasa ikhlas, tetapi mereka tidak merasa.

Apakah engkau tidak tahu, tentang Barshisha, sang pendeta yang beribadah secara ikhlas selama tujuh puluh tahun, hingga setiap orang yang sakit menjadi sehat berkat da’wahnya. Aku tidak meninggalkannya sampai dia dia berzina, membunuh, dan kafir [ingkar]. Dialah yang disebut oleh Allah dalam Qur’an dengan firmannya [dalam Surah Al Hasyr] :
” (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika mereka berkata pada manusia:”Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:”Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. (QS. 59:16).

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu berasal dariku. Akulah orang yang pertama kali berbohong. Barangsiapa berbohong, dia adalah temanku, dan barangsiapa berbohong kepada Allah, dia adalah kekasihku.

Apakah engkau tidak tahu, bahwa aku bersumpah kepada Adam dan Hawa, ” Demi Allah aku adalah penasihat kamu berdua”. Maka, sumpah palsu merupakan kesenangan hatiku, ghibah, membicarakan kejelekan orang lain, dan namimah, meng-adu domba adalah buah kesukaanku, melihat yang jelek-jelek adalah kesukaan dan kesenanganku.

Barangsiapa thalaq, bersumpah untuk cerai, dia mendekati perbuatan dosa, meskipun hanya sekali, dan meskipun ia benar. Barangsiapa membiasakan lisannya dengan ucapan cerai, istrinya menjadi haram baginya. Jika mereka masih memiliki keturunan sampai hari kiyamat, maka anak mereka semuanya adalah anak-anak hasil zina. Mereka masuk neraka hanya karena satu kata saja.

Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara umatmu ada yang meng-akhirkan shalat barang satu dua jam. Setiap kali mau shalat, aku temani dia dan aku goda dia. Kemudian aku katakan kepadanya:” Masih ada waktu, sementara engkau sibuk”. Sehingga dia mengakhirkan shalatnya dan mengerjakannya tidak pada waktunya, maka Tuhan memukul wajahnya. Jika ia menang atasku, maka aku kirim satu syaithan yang membuatnya lupa waktu shalat. Jika ia menang atasku, aku tinggalkan dia sampai ketika mengerjakan shalat aku katakan kepadanya,’ Lihatlah kiri-kanan’, lalu ia menengok. Saat itu aku usap wajahnya dengan tanganku dan aku cium antara kedua matanya dan aku katakan kepadanya,’ Aku telah menyuruh apa yang tidak baik selamanya’. Dan engkau sendiri tahu wahai Muhammad, siapa yang sering menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul wajahnya.

Jika ia menang atasku dalam hal shalat, ketika shalat sendirian, aku perintahkan dia untuk tergesa-gesa. Maka ia ‘mencucuk’ shalat seperti ayam mematuk biji-bijian dengan tergesa-gesa. Jika ia menang atasku, maka ketika shalat berjamaah aku cambuk dia dengan ‘lijam’ [cambuk] lalu aku angkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya. Aku letakkan ia hingga mendahului imam. Kamu tahu bahwa siapa yang melakukan itu, batal-lah shalatnya dan Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai pada hari kiyamat nanti.

Jika ia masih menang atasku, aku perintahkan dia untuk mengacungkan jari-jarinya ketika shalat sehingga dia mensucikan aku ketika ia sholat. Jika ia masih menang, aku tiup hidungnya sampai dia menguap. Jika ia tidak menaruh tangan di mulutnya, syaithan masuk ke dalam perutnya dan dengan begitu ia bertambah rakus di dunia dan cinta dunia. Dia menjadi pendengar kami yang setia.

Bagaimana umatmu bahagia sementara aku menyuruh orang miskin untuk meninggalkan shalat. Aku katakan kepadanya,’ Shalat tidak wajib atasmu. Shalat hanya diwajibkan atas orang-orang yang mendapatkan ni’mat dari Allah’. Aku katakan kepada orang yang sakit :” Tinggalkanlah shalat, sebab ia tidak wajib atasmu. Shalat hanya wajib atas orang yang sehat, karena Allah berkata :” Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, ???

Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. 24:61) Tidak ada dosa bagi orang yang sakit. Jika kamu sembuh, kamu harus shalat yang diwajibkan”. Sampai dia mati dalam keadaan kafir. Jika dia mati dan meninggalkan shalat ketika sakit, dia bertemu Tuhan dan Tuhan marah kepadanya.

Wahai Muhammad, jika aku bohong dan ngawur, maka mintalah kepada Tuhan untuk membuatku jadi pasir. Wahai Muhammad, bagaimana engkau bahagia melihat umatmu, sementara aku mengeluarkan seper-enam umatmu dari Islam.

Nabi berkata :” Wahai terlaknat, siapa teman dudukmu ?”.
Iblis :” Pemakan riba”.
Nabi :” Siapa teman kepercayaanmu [shadiq] ?”.
Iblis :” Pe-zina”.
Nabi :” Siapa teman tidurmu ?”.
Iblis :” Orang yang mabuk”.
Nabi :” Siapa tamumu ?”.
Iblis :” Pencuri”.
Nabi:” Siapa utusanmu ?”.
Iblis :”Tukang Sihir”.
Nabi :” Apa kesukaanmu ?”.
Iblis :” Orang yang bersumpah cerai”.
Nabi :”Siapa kekasihmu ?”.
Iblis :”Orang yang meninggalkan shalat Jum’at”.
Nabi :”Wahai terlaknat, siapa yang memotong punggungmu ?”.

Iblis :”Ringkikan kuda untuk berperang di jalan Allah”.
Nabi :” Apa yang melelehkan badanmu ?”.
Iblis:”Tobatnya orang yang bertaubat”.
Nabi:”Apa yang menggosongkan [membuat panas] hatimu ?”.
Iblis:” Istighfar yang banyak kepada Allah siang-malam.
Nabi:” Apa yang memuramkan wajahmu (membuat merasa malu dan hina)?”.

Iblis:”: Zakat secara sembunyi-sembunyi”.
Nabi:” Apa yang membutakan matamu ?”.
Iblis :” Shalat diwaktu sahur [menjelang shubuh]“.
Nabi:” Apa yang memukul kepalamu ?”.
Iblis:” Memperbanyak shalat berjamaah”.

Nabi:” Siapa yang paling bisa membahagiakanmu ?”.
Iblis :” Orang yang sengaja meninggalkan shalat”.
Nabi:” siapa manusia yang paling sengsara [celaka] menurutmu?”.

Iblis:”Orang kikir / pelit”.
Nabi:” Siapa yang paling menyita pekerjaanmu [menyibukkanmu] ?”.

Iblis:” Majlis-majlis ulama”.
Nabi:” Bagaimana kamu makan ?”.
Iblis:”Dengan tangan kiriku dan dengan jari-jariku”.
Nabi:”Dimana kamu lindungkan anak-anakmu ketika panas ?”.

Iblis:” Dibalik kuku-kuku manusia”.
Nabi:” Berapa keperluanmu yang kau mintakan kepada Allah ?”.

Iblis:” Sepuluh perkara”.
Nabi:” Apa itu wahai terlaknat ?”.
Iblis :” (1)Aku minta kepada-Nya untuk agar saya dapat berserikat dalam diri Bani Adam, dalam harta dan anak-anak mereka. Dia mengijinkanku berserikat dalam kelompok mereka.

Itulah maksud firman Allah : Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. 17:64)

(2)Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

(3)Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan ketika bersetubuih dengan istrinya maka syaithan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah :” ??. , dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki ?? (QS. 17:64) .

(4)Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar-mandi.

(5)Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku.

(6)Aku memohon agar saya punya al-Qur’an, maka syair adalah al-Qur’anku.

(7)Saya memohon agar punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku.

(8)Saya memohon agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku.

(9)Saya memohon agar saya punya teman-teman yang menolongku, maka maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku.

(10)Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfaq-kan harta kekayaannya untuk kemaksiyatan adalah teman dekat-ku. Ia kemudian membaca ayat : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS. 17:27)

Rasulullah berkata :” Andaikata tidak setiap apa yang engkau ucapkan didukung oleh ayat-ayat dari Kitabullah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.
Lalu Iblis meneruskan :” Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam sementara mereka tidak dapat melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku dapat mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku dapat berjalan kemanapun sesuai dengan kemauanku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau, dalam sesaatpun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku :” Engkau dapat melakukan apa saja yang kau minta”. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari kiamat.

Saya memiliki anak yang saya beri nama:

(1)Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya. Andaikata tidak karenanya tentu ia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat. Saya juga punya anak yang saya beri nama (2)Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan ibadah dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamer-kan ditengah-tengah manusia sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala-Nya sehingga yang tersisa hanya satu pahala, sebab, setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. Saya punya anak lagi yang bernama (3)Kuhyal. Ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang ada di majlis pengajian dan ketika khatib sedang memberikan khutbah, sehingga, mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Bagi mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya. (4) Setiap kali ada perempuan keluar pasti ada syaithan (kedua anaku) yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua syaithan itu kemudian berkata kepadanya,’ keluarkan tanganmu’. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.

Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak dapat menyesatkan sedikitpun, akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikata saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak akan membiarkan segelintir manusia-pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan ” Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya”, dan tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa.

Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayat sedikitpun kepada siapa saja, akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanah dari Tuhan. Andaikata engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang-pun kafir di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai hujjah [argumentasi] Tuhan terhadap makhluq-Nya.

Sementara saya adalah hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.

Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman dalam QS Hud : Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguh-nya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119) dilanjutkan dengan : Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (QS. 33:38)”.

Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Iblis : ” Wahai Abu Murrah [Iblis], apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjamin-mu masuk surga”.

Ia Iblis menjawab :” Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam-pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka Maha Suci Tuhan, yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khatib para penduduk surga. Dia, telah memilih dan meng-khususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluq celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu dan saya mengatakan yang sejujurnya”.

Segala puji hanya milik Allah SWT , Tuhan Semesta Alam, awal dan akhir, dzahir dan bathin. Semoga shalawat dan salam sejahtera tetap selalu diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan Para Nabi.

Hikmah dari Kisah tersebut di atas

Sebagai upaya mencari hikmah dalah kisah di atas, rangkuman ini barangkali berguna untuk direnungkan :

- Kita perlu semakin menancapkan keyakinan, bahwa syaithan tidak punya kuasa sedikitpun bagi orang-orang yang disucikan-Nya.

- Jadi upaya kita adalah memohon kepada Allah Ta’Ala agar Dia ridho dan berkenan membersihkan segala dosa baik sengaja maupun tidak untuk mendapatkan ampunan-Nya.

- Bila kita simak, perbedaan mendasar keyakinan Iblis adalah tidak ada keinginannya untuk bertaubat, walau Rasulullah SAW telah menghimbaunya bahkan dengan menawarkan jaminan untuk mendapatkan ampunan. Dengan tegas Allah berfirman : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. 20:82).

- Bila kita cermati hadangan dan rintangan yang akan dilakukan oleh Iblis dari kisah tersebut membuat kesadaran bahwa upaya untuk menjalani kehidupan sungguh tidak mudah.

- Hanya karena Maha Rahman dan Maha Rakhiim-Nya sajalah kita akan selamat dalam menjalani kehidupan ini hingga akan selamat dari jebakan-jebakan syaithan.

Namun perlu juga di-ingat, Rasulullah juga pernah mengata-kan bahwa Jihad Terbesar adalah Mengalahkan Hawa Nafsu Kita Sendiri.

- Dari berbagai referensi yang ada, cara yang yang jitu untuk berusaha menghindar dari godaan syetan yang terkutuk dalam bentuk apapun, hanya dengan meminta pertolongan kepada Alloh, paling tidak rajin-rajinlah mengucapkan Ta’awudz dan istighfar, jika diperlukan ditambah dengan sural al-Falaq, surat An-nas, ayat kursi (ada riwayatnya dari pengalaman abu haraira), dan surat albaqoroh. Karena dengan alasan, yang menguasai syetan dan iblis hanyalah Alloh, maka rajin-rajinlah meminta perlindungan kepada Alloh dalam segala Hal termasuk dalam beribadah, agar terhindar dari segala bentuk jebakan syetan.

- Bacalah “Robbi A’uudzubika min hamazatisy syayaatiini wa a’udzubika robbi iy yakhdhuruun (ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mudari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar merek tidak mendekatiku (QS. Al-Mu’minun 97-98]

- Au dzu billahi minasyaithoni rrojiim…..

- Wallahu bisho wab

Wassalamu ‘alaykum warohmatullahi Wa barokaatuh

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Akhirnya ngeblog jugaaa

akhirnya …aq punya blog juga….

hore..horeee….

kunjungi yah…

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment