KASUS ISK DI RUANG ANAK RSSN BUKITTINGGI

Data Umum

No. MR           : 01.11.61                                Ruangan         : Anak Kelas III

Nama Pasien   : Mira Sarmiati                        Dokter            : dr. Yelli Sp.A

Alamat            : Kubang Putih Banu Hampu  Farmasis         : Ayu Minang Abriani

Jenis Kelamin  : Perempuan                            Agama            : Islam

Umur               :  14 tahun                               Pekerjaan        : Pelajar SMP kelas 2

Tinggi              : ± 150 cm                               Berat              : 41 kg

 

Pasien masuk ke ruang anak tanggal 10 Maret 2010 jam 21.15 melaui IGD dengan :

Riwayat Penyakit Sekarang/Anamnesa :

Buang air kecil kurang lancar sejak 2 hari yang lalu (8 Maret 2010)

Sakit saat buang air kecil

Nafsu makan biasa

Demam (-)

Diagnosa Kerja : Suspect ISK + retensi urin + oliguri

Terapi /Tindakan Dokter :

IVFD KA-EN 1B 26 gtt/menit

Kompres buli-buli panas dingin

Periksa urin lengkap, darah rutin, ureum, creatinin

Kontrol TD 2x/hari

Cefixime 2x100mg

Sejarah pengobatan/Pembedahan yang telah dialami

Riwayat Penyakit Sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

Belum ada keluarga yang pernah menderita ISK

Data Hasil Pemeriksaan Fisik dan Data Penunjang Lain

KU : sedang

Tingkat kesadaran : CM

Ubun-ubun : datar

Hidung : bersih

Pendengaran : normal

Leher : normal

Thyroid : normal

Suprasternal : normal

Kardiovaskular : normal

Volume urin

Tanggal Jam Jumlah
11/3 09.00 50 cc
  16.05 150 cc
12/3 07.00 250 cc

Data Organ Vital

Tanggal Tek. Darah (mmHg) Nadi (x/menit) Pernafasan (x/menit) Suhu (oC)
10/3  Malam 120/80 64 20 36
11/3  Pagi 120/80 66 24 36
Siang 110/80 72 24 36
Malam 110/90 60 20 36
12/3  Pagi 110/60 69 22 36

 

Data Laboratorium Tanggal 10 Maret 2010

Urin :

Leukosit 2-4

Eritrosit 0-2

Epitel +1

Kristal amorf +1

Darah :

Sel darah putih 8,9×103/mm3 (Normal 4-10 x103/mm3)

Sel darah merah 4,7×106/mm3 (Normal 3,8-5,8×106/mm3)

Hemogloblin 10,6 g/dL                         (Normal 11-16,5 g/dL)

Hematokrit 33,6%                                 (Normal 35-50%)

Platelet/Trombosit 456×103/mm3 (Normal 150-450)

Ureum 17 mg%                                               (Normal 20-40 mg%)

Kreatinin 0,6%                                                (Normal 0,6-1,1 mg%)

 

Alergi/intoleran : ada

Allergen : telur

Reaksi terhadap allergen : gatal-gatal

Permasalahan sosial yang berhubungan dengan obat :

Alcohol : –

Coffein : –

Tembakau : –

 

Biaya pengobatan : Asuransi/ASKES/Jamkesmas/Umum

Follow up

Hari rawatan ke-2 (11 Maret 2010)

S :BAK sakit dan sedikit sejak 3 hari yang lalu, blass penuh, nafsu makan biasa

O : TD : 120/80 mmHg

Nadi : 66x/menit

Pernapasan : 24x/menit

Suhu : 36oC

A : Obs. ISK + retensi urin + oliguri

P : terapi lanjut

 

Hari rawatan ke-3 (12 Maret 2010)

S : sakit saat BAK (-), KU : Sedang

O : TD : 110/60 mmHg

Nadi : 69x/menit

Pernapasan : 24x/menit

Suhu : 36oC

P : terapi lanjut, tapi pasien pulang atas permintaan kelurga

 

Pemakaian Obat Bersamaan

No. Nama Obat Dosis Rute Indikasi Tanggal
10/3 11/3 12/3
1 KA-EN 1B (Na 38,5 mEq, Cl 38,5 mEq, glucose 37,5 mg) IVFD 26 gtt/i IV Menyalurkan atau mengganti cairan dan elektrolit IGD (21.15) 04.00

22.45

05.45
2 Cefixime (sefiksim 100 mg) Kapsul 2 x 1 PO Antibiotik untuk ISK   8

18

8


Nama Pasien        : Mira Sarmiati

No. MR                  : 01.11.61

Ruangan               : Anak kelas III

Farmasis                : Ayu Minang Abriani

 


KERTAS KERJA FARMASI

MASALAH YANG TERKAIT DENGAN OBAT

 

NO JENIS PERMASALAHAN ANALISA MASALAH PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN OBAT KOMENTAR/REKOMENDASI
1 Korelasi antara terapi obat dengan penyakit 1.       1. Adakah obat tanpa indikasi medis?

 

 

2.       2. Adakah pengobatan yang tidak dikenal?

3. Adakah kondisi klinis yang tidak diterapi?               dan apakah kondisi tersebut membutuhkan terapi obat?

1.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.    1. Tidak ada permasalahan. Tidak ada obat tanpa indikasi medis

2.    Cefixime : sebagai antibiotic untuk ISK

3.    2. Tidak ada pengobatan yang dikenal.

4.    3. Tidak ada kondisi klinis yang diterapi

2 Pemilihan obat yang sesuai 1.              1. Bagaimana pemilihan obat? Apakah sudah efektif dan merupakan obat terpilih pada kasus ini?

 

 

2.       2. Apakah pemilihan obat tersebut relative aman?

3.       3. Apakah terapi obat dapat ditoleransi oleh pasien?

1.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

1. Tidak ada permasalahan, pemilihan obat sudah efektif dan merupakan obat terpilih pada kasus ini.

Cefixime juga merupakan  antibiotik lini kedua untuk ISK, antibiotik  lini pertama untuk ISK adalah Trimetoprim-Sulfametoksazol.

2. Tidak ada permasalahan, pemakaian obat relatif aman

 

3. Tidak ada permasalahan, terapi obat dapat ditoleransi pasien, tidak ada reaksi hipersensitifitas sefiksim yang dialami pasien

3 Regimen dosis 1.        1. Apakah dosis, frekuensi dan cara pemberian sudah mempertimbangkan efektifitas,  keamanan,  dan kenyamanan serta sesuai dengan kondisi pasien?

2.        2. Apakah jadwal pemberian dosis bisa memaksimalkan efek terapi, kepatuhan, meminimalkan efek samping, interaksi obat dan regimen yang komplek?

3. Apakah lama terapi sesuai dengan indikasi?

 

1.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

3      1. Ada permasalahan, dosis untuk Mira tidak mencapai dosis lazim. Perhitungan dosis terlampir.

 

 

4      2. Tidak ada permasalahan.

5      Jadwal pemberian dosis bisa memaksimalkan efek terapi.

 

 

6      3. Lama terapi belum bisa dipantau karena pada hari kedua di RS pasien sudah pulang.

Lama terapi cefixime untuk ISK  3 hari, bisa diperpanjang sampai hari ke7. Bila infeksi masih terjadi  dapat diperpanjang 3 hari lagi, jadi total lama terapi antibiotik 10 hari. Bila lebih dari 10 hari  infeksi masih terjadi, antibiotik yang digunakan sudah resisten, dapat diganti dengan antibiotik lain.

4 Duplikasi terapi 1.       1. Apakah ada duplikasi terapi? 1.       1. Ada permasalahan: 1

2.       2. Tidak ada permasalahan

 

1.Tidak ada permasalahan.

Tidak ada duplikasi terapi, karena terapi obat  yang diberikan hanya satu.

5 Alergi obat atau intoleran 1.             1. Apakah pasien alergi atau intoleran terhadap salah satu obat (atau bahan kimia yang berhubungan dengan pengobatannya)?

2.             2. Apakah pasien telah tahu yang harus dilakukan jika terjadi alergi serius?

1.       1. Ada permasalahan: 1, 2,

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.    1, 2. Tidak ada permasalahan.

2.    Pasien tidak alergi terhadap sefiksim.

3.    Jika ada alergi, pemakaian obat dihentikan dan hubungi dokter untuk menentukan antibiotic yang akan digunakan.

6 Efek merugikan obat 1.             1. Apakah ada gejala/permasalahan medis yang diinduksi obat? 1.       1. Ada permasalahan: 1

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.Tidak ada permasalahan

Pasien tidak ada gejala medis yang diinduksi sefiksim yaitu reaksi ES gangguan saluran cerna seperti diare, abdominal pain, mual, dispepsia, perut kembung (flatulense)

7 Interaksi dan kontraindikasi 1.             1. Apakah ada interaksi obat dengan obat?Apakah signifikan secara klinik?

2.

3.             2. Apakah ada interaksi obat dengan makanan?Apakah bermakna secara klinis?

4.             3. Apakah ada interaksi obat dengan data laboratorium?Apakah bermakna secara  klinis?

5.             4. Apakah ada pemberian obat yang kontra indikasi dengan keadaan pasien?

1.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3,4

2.       2. Tidak ada permasalahan

1.    1, 2, 3, 4.Tidak ada permasalahan

2.    Tidak ada interaksi obat dengan obat karena obat yang diberikan hanya satu

3.    Tidak ada interaksi obat dengan makanan. Sefiksim dapat digunakan bersama atau tanpa makanan,  tapi pemberian bersama makanan akan mengurangi efek samping terhadap saluran cerna

4.    Tidak interaksi obat dengan data laboratorium

Tidak ada pemberian obat yang kontraindikasi dengan keadaan pasien

8 Gagal memperoleh obat 1.             1. Apakah pasien gagal memperoleh obat karena kesalahan sistem atau masalah kepatuhan?

2.             2. Apakah masalah tersebut mempengaruhi hasil dari terapi?

3.             3. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan kondisi keuangan pasien?

1.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3

2.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2, 3. Tidak ada permasalahan

Pasien memperoleh obat dengan baik.

 


Perhitungan dosis Cefixime untuk Mira umur 14 tahun BB 41 kg

Dosis sefiksim Anak > 50 kg atau > 12 tahun dan dewasa :  400 mg/hari dibagi setiap          12-24 jam (Pelayanan Informasi ObatDepKes)

Dosis sefiksim yang diberikan untuk Mira : 2x100mg = 200 mg/hari

Dosis yang diberikan untuk Mira kurang dari dosis lazim, jadi sebaiknya sefiksim yang diberikan untuk Mira : 2x200mg = 400 mg/hari

 

Dosis untuk Mira jika dihitung berdasarkan dosis /kgBB

Dosis sefiksim untuk Anak : 8 mg/kgBB/hari dibagi setiap 12-24 jam (Pelayanan Informasi Obat dan Handbook of Clinical Drug Data)

Dosis sefiksim untuk anak BB 41 kg : 8 mg/kgBB/hari x 41kg =  321 mg/hari dibagi dalam satu atau dua dosis

Dosis 1xpakai :  = 160,5 mg

Walaupun dihitung berdasarkan dosis per kgBB, dosis yang diberikan untuk Mira masih kurang untuk mencapai dosis lazim.

 

Konseling

Pertanyaan yang diajukan Pasien/Keluarga :

1.    Tidak ada

Jawaban/informasi yang diberikan :

1.    Tidak ada

Konseling yang diberikan :

1.    Banyak minum air putih

2.    Sefiksim merupakan antibiotik untuk ISK, sefiksim diberikan bersama makanan    (segera sesudah makan) untuk menghindari efek samping terhadap saluran cerna, pemakaiannya harus setiap 12 jam, jadi kalau diberikan jam 8 pagi pemberian obat selanjutnya jam 8 malam

Lembar Rencana Asuhan Kefarmasian

Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Tujuan Farmakoterapi Terapi Terpilih Parameter Monitoring Nilai yang Diinginkan
Pengobatan ISK Menghilangkan nyeri saat BAK Cefixime Nyeri saat BAK Tidak ada nyeri saat BAK

Lembar Monitoring

Parameter monitoring Tanggal
11/3 12/3
Nyeri saat BAK Ada nyeri saat BAK Tidak ada nyeri saat BAK

Informasi obat :

1.    Infus KA-EN 1B (MIMS Edisi 8 2008/2009)

Komposisi : Per 1000 mL Na 38,5 mEq Cl 38,5 mEq, glucose 37,5 g

Indikasi : menyalurkan atau mengganti cairan dan lektrolit pada kondisi dehidrasi pada pasien kekurangan karbohidrat

2.    Cefixime (Pelayanan Informasi Obat DepKes)

Indikasi : Pengobatan infeksi pada saluran urin, otitis media, infeksi saluran nafas

Dosis : Anak > 50 kg atau > 12 tahun dan dewasa :  400 mg/hari dibagi setiap 12-24 jam

Farmakologi :

Absorbsi :  40-50%; Distribusi : Didistribusikan secara luas di dalam tubuh dan mencapai efek pada konsentrasi terapi dalam jaringan dan cairan tubuh;  Waktu paruh eliminasi : pada fungsi ginjal normal : 3-4 jam; pada kerusakan ginjal : diatas sampai lebih dari 11,5 jam; Waktu untuk mencapai konsentrasi puncak pada serum : 2-6 jam, lebih lama dengan adanya makanan; Ekskresi : Urin (50% diabsorbsi dari dosis sebagai obat aktif); feses (10%).

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap sefiksim, komponen lain dalam sediaan dan  sefalosporin lain

Efek Samping : Diare (16%); 2-10% : Abdominal pain, mual, dispepsia, perut kembung(flatulense)

Interaksi Obat:

-Dengan Obat Lain : Menigkatkan efek/toksisitas :

• Amonoglikosida dan furosemida kemungkinan terjadi nefrotoksisitas karena aditif

• Probenesid dapat meningkatkan konsentrasi sefiksim

• Sefiksim meningkatkan kadar karbamazepin

• Sefiksim dapat meningkatkan waktu pembekuan darah jika diberikan bersama warfarin.

-Dengan makanan :

Dapat diberikan bersamaan atau tanpa makanan, pemberian bersamaan makanan akan mengurangi rasa tertekan pada perut.

Mekanisme Kerja : Menghambat sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri sehingga menghambat biosintesis dinding sel, bakteri akan mengalami lisis.

 

 

Data Umum

No. MR           : 00.09.60                                Ruangan          : Anak Kelas III

Nama Pasien   : Irvan Hidayat                        Dokter             : dr. Yelli Sp.A

Alamat            : Koto Tuo IV Koto                Farmasis          : Ayu Minang Abriani

Jenis Kelamin  : Laki-laki                                Agama             : Islam

Umur               :  8 tahun                                 Pekerjaan         : –

Tinggi              : ± 120 cm                               Berat               : 13 kg

 

Anamnesa

  • Sakit saat buang air kecil, buang air kecil ± 2 tetes dari pagi sekitar jam tiga        (15 Maret 2010)
  • Mual
  • Nafsu makan menurun
  • Nyeri suprasimfesis (+)

Diagnosa kerja : suspect ISK + Obs.Oliguri

Terapi dokter :

  • Periksa urin, darah, ureum, kreatinin
  • Kontrol jumlah urin
  • IVFD D5%: NaCl (375:125) 12 gtt/menit
  • Kotrimoksazol 2×1¼ cth
  • Kompres buli-buli panas dingin
  • MLDSC (makanan lunak diit saluran cerna) 1200 kkal
  • minum

Sejarah pengobatan/Pembedahan yang telah dialami

  • Fisioterapi
  • Neurotam® (Piracetam), Lycalvit® untuk Cerebral Palsy
  • Antasid sirup untuk gastritis
  • Amoksisilin untuk ISPA

Riwayat Penyakit Sebelumnya

  • Palsi serebral sejak lahir
  • Gastritis
  • ISPA

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang pernah menderita ISK

Data Hasil Pemeriksaan Fisik dan Data Penunjang Lain

Kulit                                        : normal

Kelenjar getah bening             : normal

Kepala                                     : normal

Mata                                        : normal

Telinga                                    : normal

Mulut                                      : normal

Leher                                       : normal

Dada                                       : dalam batas normal

Paru-paru                                 : dalam batas normal

Jantung                                    : dalam batas normal

Perut                                        : nyeri suprasimfesis +1

Punggung                                : normal

Alat Kelamin                           : normal

Anus dan rectum                     : normal

Anggota gerak                                    : normal

 

Ubun-ubun : datar

Pendengaran : normal

Leher : normal

Thyroid : normal

Suprasternal : normal

KV : normal

Abdomen : Bising Usus (+)

Genita urinaria : normal

Aktivitas di rumah (makan, minum, personal hygiene, BAB, BAK) : dibantu

 

Volume urin

Tanggal Jam Jumlah
15/3 14.00 Banyak (tidak diukur)
16/3 23.35 200 cc
17/3 14.00 350 cc
18/3 17.00 150 cc
19/3    

 

Data Organ Vital

Tanggal Tek. Darah (mmHg) Nadi (x/menit) Pernafasan (x/menit) Suhu (oC)
15/3  Siang 100 24 37
Malam   96 32 38
16/3  Pagi 110 18 38,7
Siang 84 24 38,4
Malam 112 48 38,8
17/3  Pagi 90/70 112 30 38,5
Siang 108 60 36,5
Malam 100 28 36,5
18/3  Pagi 84 20 36,5
Siang 120 40 36,3
Malam 80 24 36
19/3  Pagi 69 22 36,2
Siang 68 20 36
Malam 80 24 36,2
20/3  Pagi        
Siang        
Malam        

 

Data Laboratorium

Tanggal 15 Maret 2010

Urin :

Leukosit 0-1

Eritrosit 0-1

Epitel +1

Kristal amorf +1

Darah :

Sel darah putih 11,2×103/mm3 (Normal 4-10 x103/mm3)

Sel darah merah 4,95×106/mm3 (Normal 3,8-5,8×106/mm3)

Hemogloblin 13,1 g/dL                         (Normal 11-16,5 g/dL)

Hematokrit 38 %                                   (Normal 35-50%)

Platelet/Trombosit 405×103/mm3 (Normal 150-450)

Ureum 28 mg%                                               (Normal 20-40 mg%)

Kreatinin 0,7 mg%                                          (Normal 0,6-1,1 mg%)

 

Tanggal 17 Maret 2010

Urin :

Leukosit 2-4

Eritrosit 1-2

Epitel +1

Kristal amorf +1

 

 

Tanggal 19 Maret 2010

Urin :

Leukosit 0-1

Eritrosit 1-2

Kristal Ca oxalat +1

Faeces :

Konsistensi : keras

Warna : kuning kecoklatan

Darah : (+) positif

Mikroskopis amuba : (-) negatif

Alergi/intoleran : tidak ada

Permasalahan sosial yang berhubungan dengan obat :

Alcohol : –

Coffein : –

Tembakau : –

Biaya pengobatan : Asuransi/ASKES/Jamkesmas/Umum

 

Follow-up

Hari rawatan ke-1 (15/3 2010 malam)

S : sakit sekali bila BAK, demam

O : Suhu : 38oC           Nadi : 96x/menit         Pernafasan : 32x/menit

P : Ottopan® (parasetamol) 3x 1cth

 

Hari rawatan ke-2 (16/3 2010)

S : demam (+), kejang (+)

O : Suhu : 38,7oC        Nadi : 110x/menit       Pernafasan : 18x/menit

P : Ottopan® (parasetamol) 4×1½ cth

Luminal 2x25mg

 

Hari rawatan ke-3 (17/3 2010)

S : sakit sekali bila BAK, jumlah urin mulai banyak, mual (-), demam (+), nyeri suprasinfesis (+), KU sedang

O : Suhu : 38,5oC        Nadi : 112x/menit       Pernafasan : 30x/menit

P : terapi lanjut, periksa urin

Hari rawatan ke-4 (18/3 2010)

S : sakit saat BAK berkurang; BAB (-), keras, dan sakit bila BAB; demam (-); KU sedang

O : Suhu : 36,5oC        Nadi : 84x/menit         Pernafasan : 20x/menit

P : Dulcolax supp 1x5mg, terapi lanjut

Hari rawatan ke-5 (19/3 2010)

S : sakit saat BAK (–), BAB keras dan sakit saat BAB, demam (-),

O : Suhu : 36,2oC        Nadi : 96x/menit         Pernafasan : 40x/menit

P : Dulcolax supp 1x5mg, terapi lanjut, periksa urin dan feses

Hari rawatan ke-6 (20/3 2010)

S : BAK sakit (-), BAB sakit (-), demam (-)

O : Suhu :    oC            Nadi :    x/menit          Pernafasan :    x/menit

P : terapi lanjut

 

Pemakaian Obat Bersamaan

No. Nama Obat Dosis Rute Indikasi Tanggal
15/3 16/3 17/3 18/3 19/3 20/3
1 IVFD Dextrose 5% : NaCl (375 : 125) 12 gtt/i IV Rehidrasi, penambah kalori secara parenteral 13 01

 

00

12

     
2 Cotrimoksazol Suspensi (Tiap 5 mL: Trimetoprim 40 mg, Kotrimoksazol 200 mg) 2 x 1¼ cth PO Antibiotik untuk ISK tak terkomplikasi  

18

8

18

8

18

8

18

8

18

8   18
3 Ottopan® sirup                   ( Parasetamol 120 mg/5mL) 4 x 1½ cth PO Antipiretik, analgetik  

 

 

22

8

12

18

22

8

12

18

22

8    
4 Luminal Pulvis 25 mg 2 x 1

bungkus

PO antikonvulsan    

18

8

18

8

18

8   18 8   18
5 Dulcolax® suppos

(Bisacodil 5 mg)

1 x 1 suppos Anal laksatif       10 12  

 

Nama Pasien        : Irvan Hidayat

No. MR                  : 00.09.60

Ruangan               : Anak kelas III

Farmasis                : Ayu Minang Abriani

 

KERTAS KERJA FARMASI

MASALAH YANG TERKAIT DENGAN OBAT

 

NO JENIS PERMASALAHAN ANALISA MASALAH PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN OBAT KOMENTAR/REKOMENDASI
1 Korelasi antara terapi obat dengan penyakit 3.       1. Adakah obat tanpa indikasi medis?

4.       2. Adakah pengobatan yang tidak dikenal?

 

 

 

 

5.       3. Adakah kondisi klinis yang tidak diterapi?  dan apakah kondisi tersebut membutuhkan terapi obat?

 

3.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2. Tidak ada permasalahan

Cotrimoksazol sebagai antibiotic untuk ISK

Ottopan® (parasetamol) sebagai antipiretik

Luminal sebagai maintenance antikonvulsan, karena cerebral palsy biasanya disertai kejang.

Dulcolax® supp (Bisacodil) sebagai laksatif stimulan

3.     Tidak ada permasalahan

Dalam  anamnesa pasien ada mual. Mual dapat hilang dengan sendirinya, tanpa perlu terapi obat.

2 Pemilihan obat yang sesuai 4.        1. Bagaimana pemilihan obat? Apakah sudah efektif dan merupakan obat terpilih pada kasus ini?

5.       2. Apakah pemilihan obat tersebut relative aman?

6.       3. Apakah terapi obat dapat ditoleransi oleh pasien?

3.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2, 3. Tidak ada permasalahan

Cotrimoksazol merupakan terapi lini pertama untuk ISK.

Parasetamol efektif sebagai penurun demam

Luminal efektif untuk pengobatan maintenance kejang pada anak

Pemilihan obat relatif aman dan dapat ditoleransi oleh pasien, tidak ada reaksi alegi setelah diberikan Cotrimoksazol, parasetamol, luminal, dan Dulcolax® supp

3 Regimen dosis 3.       1. Apakah dosis, frekwensi dan cara pemberian sudah mempertimbangkan efektifitas keamanan dan kenyamanan serta sesuai dengan kondisi pasien?

4.        2. Apakah jadwal pemberian dosis bisa memaksimalkan efek terapi, kepatuhan, meminimalkan efek samping, interaksi obat dan regimen yang komplek?

 

 

5.       3. Apakah lama terapi sesuai dengan indikasi?

3.       1. Ada permasalahan : 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1.             1,2. Tidak ada permasalahan

Dosis, frekuensi, dan cara pemberian sudah efektif (perhitungan dosis Cotrimoksazol, Parasetamol, Luminal dilampirkan).

Dosis Dulcolax®  supp : Anak usia 2-11 tahun : 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal.

 

 

 

 

 

3. Ada permasalahan.

Lama terapi Cotrimoksazol tidak bisa dipantau , karena farmasis pindah ruangan. Lama terapi Cotrimoksazol untuk ISK 3 hari, bisa diperpanjang  sampai hari ke-7. Bila masih infeksi, bisa diperpanjang 3 hari lagi. Jadi lama terapi 10 hari. Bila lebih dari 10 hari  infeksi masih terjadi, antibiotik yang digunakan sudah resisten, dapat diganti dengan antibiotiklain.

4 Duplikasi terapi 2.       1. Apakah ada duplikasi terapi? 3.       1. Ada permasalahan: 1

4.       2. Tidak ada permasalahan

 

1.Tidak ada permasalahan

Tidak ada duplikasi  terapi dari trimetoprim, sulfametoksazol, parasetamol, dan luminal

5 Alergi obat atau intoleran 3.             1. Apakah pasien alergi atau intoleran terhadap salah satu obat (atau bahan kimia yang berhubungan dengan pengobatannya)?

4.             2. Apakah pasien telah tahu yang harus dilakukan jika terjadi alergi serius?

3.       1. Ada permasalahan: 1, 2,

4.       2. Tidak ada permasalahan

4.    1, 2. Tidak ada permasalahan

5.    Jika ada alergi, pemakaian obat dihentikan, dan hubungi dokter untuk menentukan obat yang akan digunakan .

6 Efek merugikan obat 2.             1. Apakah ada gejala/permasalahan medis yang diinduksi obat? 3.       1. Ada permasalahan: 1

4.       2. Tidak ada permasalahan

1.     Tidak ada permasalahan

Pasien tidak mengalami gejala/permasalahan medis yang diinduksi oleh cotrimoksazol, parasetamol, luminal, dan Dulcolax® supp

Cotrimoksazol : Reaksi efek samping yang paling banyak adalah gangguan pencernaan (mual, muntah, anorexia), reaksi dermatologi (rash atau urticaria).

Parasetamol : Efek samping dalam dosis terapi jarang; pada dosis besar dan penggunaan jangka panjang menyebabkan keusakan hati/hepatotoksik.

Luminal : Mengantuk, kelelahan, depresi mental, ataksia dan alergi kulit, dan hiperkinesia pada anak; anemia megaloblastik(dapat diterapi dengan asam folat)

Dulcolax® supp : Efek Samping pemberian suppositoria bisakodil rektal dapat menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada mukosa rektum serta proktitis ringan

 

7 Interaksi dan kontraindikasi 6.             1. Apakah ada interaksi obat dengan obat?Apakah signifikan secara klinik?

7.

8.             2. Apakah ada interaksi obat dengan makanan?Apakah bermakna secara klinis?

9.             3. Apakah ada interaksi obat dengan data laboratorium?Apakah bermakna secara  klinis?

10.          4. Apakah ada pemberian obat yang kontra indikasi dengan keadaan pasien?

3.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3,4

4.       2. Tidak ada permasalahan

5.    1, 2, 3, 4. Tidak ada permasalahan

6.    Tidak ada interaksi antara cotrimoksazol, parasetamol, luminal

7.    Tidak ada interkasi cotrimoksazol, parasetamol dengan makanan, jadi dapat diberikan sesudah makan. Luminal berinteraksi dengan makanan yang mengandung vit.D dan Ca, luminal menyebabkan penurunan absorpsi vit.D dan Ca (pelayanan informasi obat). Jadi pemaikaian luminal bisa 1 jam sebelum atau 2 jam setelah pemberian makanan yang mengandung Vit. D dan Ca.

8 Gagal memperoleh obat 4.             1. Apakah pasien gagal memperoleh obat karena kesalahan sistem atau masalah kepatuhan?

5.             2. Apakah masalah tersebut mempengaruhi hasil dari terapi?

6.             3. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan kondisi keuangan pasien?

3.       1. Ada permasalahan: 1, 2,3

4.       2. Tidak ada permasalahan

1, 2, 3. Tidak ada permasalahan

Pasien memperoleh obat dengan baik.

 


Konseling

Pertanyaan yang diajukan Pasien/Keluarga :

1.      Apakah boleh kalau Irvan makan telur tiap hari, kalau tidak pakai telur susah makannya?

Jawaban/informasi yang diberikan :

  1. Boleh, telur mengandung protein, tapi sebaiknya sayur dan buah juga dimakan.

Konseling yang diberikan :

1.    Banyak minum air putih.

2.    Cotrimoksazol suspensi merupakan antibiotik untuk ISK, diberikan dua kali sehari, satu kali pakai 1¼ sendok takar  sesudah makan. Pemakaian harus setiap 12 jam, jadi kalau diminum jam 8 pagi waktu pemberian berikutnya jam 8 malam. Jangan lupa dikocok dulu sebelum dipakai.

3.    Ottopan® (Parasetamol) merupakan obat demam atau penurun panas, diberikan empat kali sehari, satu kali pakai 1½ sendok takar. Pemakaian obat jam 8.00, 13.00, 18.00, 22.00 bersama atau tanpa makanan. Parasetamol diminum bila demam saja, kalau tidak demam tidak usah diberikan.

4.    Puyer merupakan obat kejang, diberikan pagi jam 8.00 dan sore jam 18.00

5.    Pemakaian puyer jangan digabung dengan sirup, karena kalau digabung dosis obat yang sirup jadi berkurang. Sebaiknya puyer dipisahkan pemakaianya dengan sirup. Puyer dituang ke sendok, lalu dilarutkan dengan air minum secukupnya.

Lembar Rencana Asuhan Kefarmasian

Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Tujuan Farmakoterapi Terapi Terpilih Parameter Monitoring Nilai yang Diinginkan
Pengobatan ISK Menghilangkan nyeri suprasimfesis Trimetoprim-Sulfametoksazol Nyeri suprasimfesis Tidak ada nyeri suprasiinfesis
Pengobatan demam Menghilangkan demam Parasetamol Suhu tubuh Suhu tubuh normal              (36-37oC)
Pengobatan kejang Menghilangkan kejang Luminal/Phenobarbital Kejang Tidak ada kejang
Pengobatan konstipasi Menghilangkan nyeri saat BAB Dulcolax suppositoria (Bisacodil) Nyeri saat BAB Tidak ada nyeri saat BAB

Lembar Monitoring

Parameter monitoring Tanggal
15/3 16/3 17/3 18/3 19/3 20/3
Nyeri suprasimfesis ada ada ada berkurang tidak ada tidak ada
Suhu tubuh 38 (demam) 38,7 (demam) 38,5 (demam) 36,5 (tidak demam) 36,2 (tidak demam)  
Kejang   ada ada ada ada ada
Nyeri saat BAB       ada ada tidak ada

 

Informasi Obat :

1.    Cotrimoksazol suspensi (tiap 5 mL : Trimetoprim 40 mg-Sulfametoksazol 200 mg) (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Untuk pengobatan infeksi saluran urin yang disebabkan E.coli, Klebsella dan Enterobacter sp, M.morganii, P.mirabilis dan P.vulgaris; otitis media akut pada anak.

Dosis : untuk ISK : oral: 6-12 mg TMP/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 12 jam.

Farmakologi :

Absorbsi: oral : hampir sempurna, 90-100%.

T½ eliminasi: Slfametoksazol : 9 jam.

Trimetoprim: 6-17 jam, dan mengalami perpanjangan pada pasien gagal ginjal.

T. max, serum: antara 1-4 jam.

Ekskresi obat: dieksresi melalui urin dalam bentuk metabolit dan dalam bentuk utuh.

Kontra Indikasi : Hipersensitif pada obat golongan sulfa, trimethoprim atau komponen lain dalam obat; profiria; anemia megaloblastik karena kekurangan asam folat; bayi dengan usia <2 bulan; adanya tanda kerusakan pada hepar pasien; gagal ginjal parah; kehamilan.

Efek Samping : Reaksi efek samping yang paling banyak adalah gangguan pencernaan (mual, muntah, anorexia), reaksi dermatologi (rash atau urticaria).

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain :

Meningkatkan efek toksik: Meningkatkan efek toksis dari metotreksat. Kemungkinan meningkatkan kadar obat amiodaron, flueksetin, glimepirid, glipizid, phenytoin, warfarin. Peningkatan efek hiperkalemia pada penggunaan bersamaan obat ACE inhibitor, reseptor antagonis angiotensin atau diuresis hemat kalium. Peningkatan efek neprotosis dengan siklosporin.

Menurunkan efek obat:

Kemungkinan kadar obat kotrimoxazole akan diturunkan oleh: karbamazepin, fenobarbital, penitoin, rifampisin, rifapentine, secobarbital.

-Dengan makanan : tidak ada.

Parameter monitoring : Hati (SGPT,SGOT), Ginjal (ClCr), Electrolit (Kalium)

Informasi Pasien :

Untuk menghindari timbulnya resistensi, dan ketidak berhasilan terapi maka sebaiknya obat digunakan dalam dosis dan rentang waktu yang telah ditetapkan.

Amati jika ada timbul gejala ESO obat, seperti mual, diare atau respon hipersensitivitas.

Mekanisme Kerja : Sulfametoxazol menghambat sintesis asam folat dan pertumbuhan bakteri dengan menghambat susunan asam dihidrofolat dari asam para-aminobenzen; Trimethoprime menghambat terjadinya reduktasi asam dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat yang secara tidak langsung mengakibatkan penghambatan enzim pada siklus pembentukan asam folat.

 

2.    Ottopan® sirup (Parasetamol 120mg/5mL) (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Demam/antipiretik, nyeri ringan sampai sedang

Dosis : 10-15 mg/kgBB/dosis

Farmakologi : Memiliki aktifitas sebagai analgetik dan antipiretik

Kontra Indikasi : Hipersensitivitas

Efek Samping : Efek samping dalam dosis terapi jarang; kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut pernah dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain :

Alkohol, antikonvulsan, isoniazid : Meningkatkan resiko hepatotoksis;

Antikoagulan oral : Dapat meningkatkan efek warfarin;

Fenotiazin : Kemungkinan terjadi hipotermia parah

-Dengan makanan : tidak ada

Parameter monitoring : Suhu tubuh. Fungsi hati

Informasi Pasien : Jika nyeri atau demam sudah lebih dari 3 hari, hubungi dokter

Mekanisme Kerja : Bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat.

 

3.    Luminal (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Sebagai antikonvulsi, fenobarbital digunakan dalam penanganan seizure tonik-klonik (grand mal) dan seizure parsial. Fenobarbital dapat digunakan dalam pengobatan awal, baik untuk bayi maupun anak-anak. (AHFS 2002)

Dosis luminal : 4-7 mg/kgBB/hari

Farmakologi : Fenobarbital adalah antikonvulsan turunan barbiturat yang efektif dalam mengatasi epilepsi pada dosis subhipnotis.

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap barbiturat atau komponen sediaan, gangguan hati yang jelas, dispnea, obstruksi saluran nafas, porfiria, hamil.

Efek Samping : Mengantuk, kelelahan, depresi mental, ataksia dan alergi kulit, paradoxical excitement restlessness, hiperkinesia pada anak; anemia megaloblastik (dapat diterapi dengan asam folat)

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain :

Alkohol : Meningkatkan efek sedatif.

Antiaritmia  : Metabolisme disopiramid dan kinidin ditingkatkan (kadar plasma diturunkan)

Antibakteri : Metabolisme kloramfenikol, doksisiklin, dan metronidazol dipercepat (efek berkurang).

Antikoagulan : metabolisme nikumalon dan warfarin dipercepat (mengurangi efek antikoagulan).

Antidepresan : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang menurun); metabolisme mianserin dan trisiklik dipercepat (menurunkan kadar plasma).

Antiepileptika : pemberian bersama dengan fenobarbital dapat meningkatkan toksisitas tanpa disertai peningkatan efek antiepileptik; disamping itu interaksi dapat menyulitkan pemantauan terhadap pengobatan; interaksi termasuk peningkatan efek, peningkatan sedasi, dan penurunan kadar plasma.

Antijamur : fenobarbital mempercepat metabolisme griseofulvin (mengurangi efek).

Antagonis-Kalsium : efek diltiazem, felodipin, isradipin, verapamil,dan mungkin nikardipin dan nifedipin dikurangi.

Glikosida jantung : hanya metabolisme digitoksin yang dipercepat (mengurangi efek).

Kortikosteroida : metabolisme kortikosteroid dipercepat (menurunkan efek).

Siklosporin : metabolism siklosporin dipercepat (mengurangi efek).

Estrogen dan Progestogen : metabolisme gestrinon, tibolon, dan kontrasepsi oral dipercepat (menurunkan efek kontraseptif).

Teofilin : metabolisme teofilin dipercepat (mengurangi efek).

Vitamin : kebutuhan akan vitamin D mungkin meningkat

-Dengan makanan : Dapat menyebabkan penurunan vitamin D dan kalsium.

Parameter monitoring : Konsentrasi serum fenobarbital, status/ kondisi mental, aktivitas seizure

Mekanisme Kerja : Barbiturat menekan korteks sensor, menurunkan aktivitas motorik, mempengaruhi fungsi serebral dan menyebabkan kantuk, efek sedasi dan hipnotik. Pada dosis tinggi barbiturat memiliki sifat antikonvulsan, dan menyebabkan depresi saluran nafas yang dipengaruhi dosis.

 

4.    Dulcolax® suppositoria (Bisacodil 5 mg) (Pelayanan Informasi Obat)

Indikasi : Laksatif stimulan.

Dosis : Rektal : Anak usia 2-11 tahun : 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal. Anak usia<2 tahun:5 mg sebagai dosis tunggal. Dewasa dan anak>=12 tahun:10 mg sehari sebagai dosis tunggal.

Farmakologi : Bisakodil merupakan laksatif stimulan. Absorbsi bisakodil minimal setelah pemberian oral atau rektal. Obat dimetabolisme di hati dan diekskresi melalui urin dan/atau didistribusikan ke dalam ASI. Pemberian rektal menyebabkan pengosongan kolon dalam waktu 15 menit sampai 1 jam.

Kontra Indikasi : Pasien dengan sakit perut akut, mual, muntah, dan gejala-gejala lain apendisitis atau sakit perut yang tak terdiagnosa; pasien dengan obstruksi usus.

Efek Samping : Pemberian suppositoria bisakodil rektal dapat menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada mukosa rektum serta proktitis ringan

Interaksi Obat :

-Dengan obat lain : Efektivitas bisakodil berkurang bila diberikan bersama-sama dengan antasida, simetidin, famotidin, ranitidin.

-Dengan makanan : tidak ada

Parameter monitoring : Berkurangnya rasa tidak enak dan sakit pada abdomen, buang air besar (dalam 15 sampai 60 menit), evaluasi kembali bila terdapat perdarahan rektum atau tidak ada buang air besar setelah pemberian.

Informasi Pasien : Suppositoria bisakodil rektal dapat diberikan pada saat buang air besar diinginkan. Penggunaan lebih dari 7 hari tidak direkomendasikan. Sebagai laksatif oral, bisakodil sebaiknya diberikan pada malam hari sebelum aktivitas buang air besar yang dikehendaki di pagi hari berikutnya. Laksatif difenilmetan tidak seharusnya diberikan melebihi dosis yang direkomendasikan.

Mekanisme Kerja : Laksatif stimulan menginduksi defekasi dengan merangsang aktivitas peristaltic usus yang bersifat mendorong (propulsif) melalui iritasi lokal mukosa atau kerja yang lebih selektif pada plexus saraf intramural dari otot halus usus sehingga meningkatkan motilitas. Akan tetapi, studi terbaru menunjukkan bahwa obat-obat ini mengubah absorpsi cairan dan elektrolit, menghasilkan akumulasi cairan usus dan pengeluaran feses.

 

 

 

 

Perhitungan dosis untuk Irvan

1.    Perhitungan Dosis Trimetoprim dan Sulfametoksazol untuk Irvan

Untuk ISK

Dosis trimetoprim : 6-12 mg/kgBB dalam dosis terbagi tiap 6 atau 12 jam (Pelayanan Informasi Obat DepKes) atau 8 mg/kg BB dalam dua dosis tiap 12 jam selama 10 hari (Obat-obat Penting).

Dosis sulfametoksazol : 40 mg/kg BB dalam dua dosis terbagi tiap 12 jam selama 10 hari (Obat-obat Penting).

Tiap 5 mL suspensi Cotrimoksazol mengandung :

Trimetoprim          40 mg

Sulfametoksazol  200 mg

Berat Badan Irfan Hidayat 13 kg.

Dosis Cotrimoksazol yang diberikan untuk Irfan 2 x 1¼ sendok takar.

Trimetoprim untuk BB 13 kg : 8 mg/kg BB x 13 kgBB = 104 mg dalam dua dosis

Trimetoprim untuk BB 13 kg 1 x pakai =  = 52 mg

Trimetoprim : 1 sendok takar = 40 mg + ¼ sendok takar = 10 mg

40 mg + 10 mg = 50 mg ≈ 52 mg

Sulfametoksazol untuk BB 13 kg: 40 mg/kg BB x 13 kgBB =520 mg dalam dua dosis.

Sulfametoksazol untuk BB 13 kg 1 x pakai =  = 260 mg

Sulfametoksazol : 1 sendok takar = 200 mg + ¼ sendok takar = 50 mg

200+ 50 mg = 250 mg ≈ 260 mg

Dosis Cotrimoksazol untuk Irvan mendekati dosis terapi

2.    Perhitungan Dosis Parasetamol untuk Irvan

Dosis parasetamol : 10-15mg/kgBB/dosis

Tiap 5 mL sirup Ottopan® mengandung :

Parasetamol  : 120 mg

Dosis Parasetamol yang diberikan untuk Irfan 4 x 1½ sendok takar.

Dosis Parasetamol untuk BB 13 kg : 10-15 mg/kgBB x 13 kgBB = 130-195 mg/dosis

Parasetamol: 1 sendok takar =  120 mg + ½ sendok takar = 60 mg

120 mg + 60 mg = 180 mg (130-195)

Dosis parasetamol untuk Irvan dalam range dosis terapi

 

3.    Perhitungan dosis luminal untuk irvan

Dosis luminal : 4-7 mg/kgBB/hari (kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid 1)

Dosis luminal yang diberikan untuk Irvan : 2×25 mg

Dosis luminal untuk BB 13 kg : 4-7 mg/kgBB x 13 kg = 52-91 mg

Dosis luminal untuk BB 13 kg untuk 1xpakai :  = 26-45,5 mg (Luminal untuk Irvan 1xpakai 25 mg)

Dosis luminal untuk Irvan kurang 1 mg dari range, tidak berpengaruh terhadap hasil terapi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s